Jawa Pos Radar Magetan – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali menyerang sapi di Desa Bogoarum, Plaosan.
Tiga ekor sapi mati dalam beberapa bulan terakhir.
Kabid Kesehatan Hewan Disnakkan Magetan drh Budi Nur Rochman menegaskan vaksinasi menjadi kunci mencegah penyebaran PMK.
“Vaksin hanya bisa mengebalkan ternak selama enam bulan. Setelah itu harus diulang kembali. Jadi, jangan menganggap PMK sudah hilang lalu seenaknya membeli ternak tanpa tahu riwayat vaksinasinya,” ujarnya, kemarin (15/9).
Disnakkan menggandeng pemdes dan RT untuk sosialisasi vaksinasi, penyaluran obat cacing, dan vitamin.
RT juga diminta membantu masyarakat mengakses vaksin gratis.
“Kalau sapi sehat segera divaksinasi, sapi sakit diobati. Dengan begitu, penyebaran PMK bisa ditekan,” lanjut Budi.
Dia mengingatkan peternak agar tidak mengobati ternak dengan cara keliru seperti menggunakan alkohol atau sitrun.
“Sitrun itu dulu dipakai untuk desinfeksi lingkungan, bukan untuk luka. Jika ada ternak sakit, hubungi petugas resmi,” tegasnya.
Berdasarkan data Disnakkan, Januari–Agustus 2025 tercatat 547 kasus PMK di Magetan.
Dari jumlah itu, 59 ekor mati, tujuh dipotong paksa, dan 414 ekor sembuh.
Periode Juni–Agustus saja ada 75 kasus baru. Kasus lumpy skin disease (LSD) juga meningkat, 101 ekor positif dan 10 ekor sembuh.
“Vaksin itu tidak bisa bertahan selamanya, harus diulang setiap enam bulan,” pungkasnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto