Jawa Pos Radar Magetan – Operasional Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Magetan yang digadang-gadang sebagai percontohan nasional belum berjalan optimal.
Dari kapasitas pengolahan maksimal 10 meter kubik per hari, pemanfaatannya baru mencapai sekitar 40 persen.
Saat ini, IPLT Magetan baru melayani empat kecamatan dari total 18 kecamatan yang ada.
Kondisi tersebut membuat potensi pengelolaan limbah domestik belum termanfaatkan secara maksimal.
Kepala DPUPR Magetan Muhtar Wakid menjelaskan, IPLT yang dibangun sejak 2023 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) itu menjadi yang pertama di Indonesia yang menggunakan skema pendanaan tersebut.
Namun, perluasan layanan masih terkendala aspek kelembagaan.
Pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) menjadi syarat utama agar operasional IPLT bisa menjangkau seluruh wilayah kabupaten.
“Tanpa UPT dan dukungan personel, layanan belum bisa diperluas,” ujarnya.
Muhtar memerinci, dari kapasitas 10 meter kubik per hari, baru sekitar 4 meter kubik yang termanfaatkan.
Padahal, sisa kapasitas dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), termasuk melalui kerja sama pengelolaan limbah dengan pihak swasta.
“Kalau UPT terbentuk, targetnya seluruh kecamatan bisa terlayani dan pengelolaan IPLT lebih maksimal,” pungkasnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto