Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tumpeng Raksasa 1,5 Meter Dilarung ke Tengah Telaga Sarangan, Ribuan Warga Berebut Berkah Jumat Pon

Aprilita Sari • Jumat, 16 Januari 2026 | 17:55 WIB

Upacara adat Labuhan Sarangan digelar di Telaga Sarangan, Jumat (16/1).
Upacara adat Labuhan Sarangan digelar di Telaga Sarangan, Jumat (16/1).
Jawa Pos Radar Madiun – Tradisi tahunan yang paling dinanti di kawasan lereng Gunung Lawu akhirnya digelar.

Ribuan warga dan wisatawan memadati tepian Telaga Sarangan, Jumat (16/1) pagi, untuk menyaksikan ritual Labuhan Sarangan.

Puncak acara ditandai dengan momen dramatis saat Tumpeng Gono Bahu (nasi putih) dan Tumpeng Hasil Bumi setinggi 1,5 meter diarak menggunakan speedboat ke tengah telaga, lalu dilarung (ditenggelamkan) sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sesepuh Adat Sarangan, Sutowo Harjo Sumarto (Mbah Wo), menjelaskan bahwa ritual ini adalah warisan leluhur yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, namun mulai dikemas meriah sebagai atraksi wisata sejak tahun 1982.

Baca Juga: Buntut Gaduh Dana Desa Klesem, Inspektorat Bakal Audit Keuangan Seluruh Desa di Pacitan

Kenapa Digelar Bulan Rajab?

Ada yang unik tahun ini. Biasanya, Labuhan Sarangan digelar pada bulan Ruwah. Namun, jadwalnya dimajukan ke bulan Rajab.

"Biasanya digelar bulan Ruwah tepat hari Jumat Pon. Tapi tahun ini di bulan Ruwah tidak ada hari Jumat Pon, jadi pelaksanaannya dimajukan ke bulan Rajab," jelas Mbah Wo.

Meski jadwal bergeser, kekhusyukan tidak berkurang.

Ritual ini ditujukan sebagai penghormatan kepada leluhur (Kiai Pasir dan Nyai Pasir) serta permohonan agar warga dan pelaku usaha wisata Sarangan dijauhkan dari bencana dan diberi kelancaran rezeki.

Baca Juga: Kuliah Gratis demi Putus Kemiskinan, Baznas Ngawi Kucurkan Beasiswa SKSS di Milad ke-25

Pesta Rakyat: Wajib Bawa Ayam Panggang

Selain larung tumpeng raksasa, daya tarik utama acara ini adalah tradisi makan bersama (kembul bujana) di pinggir telaga. Warga lokal wajib membawa bekal istimewa dari rumah.

Yayuk Dyah Pramesti, warga setempat, menuturkan isi bekal wajib tersebut:

"Setelah didoakan bersama, satu pincuk (sebagian kecil) dibuang ke telaga sebagai simbol sedekah alam, sisanya dimakan ramai-ramai bersama wisatawan," ujar Yayuk.

Baca Juga: Hasil Putri KW di India Open 2026: Keok Lagi dari An Se Young, Gagal ke Semifinal

Wisatawan Luar Kota Terpesona

Tradisi ini sukses menyedot perhatian pelancong. Dina Saraswati, wisatawan asal Jombang, mengaku beruntung bisa menyaksikan prosesi langka ini.

"Saya kira acaranya siang, ternyata pagi sekali sudah mulai. Di tempat saya tidak ada tradisi seperti ini, jadi saya sangat antusias," ungkapnya.

Acara Labuhan Sarangan ini menjadi bukti bahwa pariwisata Magetan tidak hanya menjual keindahan alam, tapi juga kekayaan budaya yang lestari. (ril/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#magetan #tumpeng raksasa #ritual #Labuhan Sarangan #tradisi #sarangan #upacara adat #larungan #plaosan #wisata telaga sarangan