Jawa Pos Radar Magetan – Tradisi nyekar atau ziarah kubur menjelang bulan suci Ramadan 1447 H membawa dampak ekonomi signifikan bagi petani bunga mawar di Magetan.
Memasuki pertengahan Februari, harga mawar di tingkat petani melonjak drastis seiring tingginya permintaan pasar.
Kenaikan tersebut menjadi berkah tahunan bagi warga, khususnya di wilayah Sidorejo yang dikenal sebagai sentra penghasil mawar di lereng Gunung Lawu.
Menurut Sumiati, salah satu petani mawar di Desa Sidorejo, kenaikan harga sudah mulai terasa sejak sepekan terakhir.
Harga normal umumnya berada di kisaran Rp 50 ribu per takaran.
Pekan lalu, harga naik menjadi Rp 200 ribuan.
Pada Senin (16/2), harga menembus Rp 250 ribu per takaran.
“Alhamdulillah permintaan bunga mawar selalu ada setiap hari dan terus meningkat,” ujar Sumiati, Selasa (17/2).
Tingginya harga tidak menyurutkan minat para tengkulak untuk memborong hasil panen petani.
Para pembeli skala besar itu dilaporkan datang dari berbagai daerah tetangga untuk memenuhi kebutuhan peziarah di wilayah masing-masing.
Lonjakan permintaan tahun ini dinilai lebih tinggi karena momentumnya bersamaan dengan libur panjang menjelang awal Ramadan.
Kondisi tersebut diprediksi akan bertahan hingga hari pertama puasa.
Permintaan juga diperkirakan kembali melonjak saat mendekati Hari Raya Idulfitri.
“Tradisi nyekar berdampak positif untuk kami para petani,” terangnya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto