Jawa Pos Radar Madiun - Fenomena unik dan tidak biasa di dunia peternakan kembali memicu perhatian besar dari masyarakat luas di tingkat pedesaan.
Sebuah peristiwa kelahiran satwa dengan anatomi tubuh yang tidak lazim dilaporkan terjadi dan langsung memicu rasa penasaran warga untuk menyaksikannya secara langsung.
Kelahiran seekor anak sapi dengan kondisi fisik tidak biasa menghebohkan warga Desa Setren, Kecamatan Bendo.
Anak sapi jantan jenis limosin itu lahir dengan satu kepala, dua mulut, duas lidah, dan tiga mata pada Senin (6/7) pagi.
Pemilik sapi, Parmin, mengaku terkejut saat membantu proses kelahiran di dalam kandang miliknya tersebut.
Menurutnya, induk sapi melahirkan secara normal dan ia hanya membantu menarik anak sapi ketika proses persalinan berlangsung.
“Saya kaget melihat kepalanya satu, tetapi mulutnya dua, lidahnya dua, dan matanya tiga. Sebelumnya tidak ada firasat apa pun. Alhamdulillah sampai sekarang anak sapi itu sehat,” ujarnya, Kamis (9/7).
Parmin menjelaskan, anak sapi tersebut merupakan kelahiran kedua dari induk yang sama di peternakan kecilnya.
Ia memberi nama Brilian dan berencana memeliharanya sendiri meski sudah ada beberapa orang yang menanyakan untuk membeli dengan harga tertentu.
“Selama saya hidup baru pertama kali melihat sapi dengan kondisi seperti ini. Sejak Senin banyak warga datang silih berganti untuk melihat langsung,” jelasnya.
Baca Juga: Belanja Online Bakal Lebih Murah? Pemerintah Beri Diskon Biaya Layanan Marketplace Mulai 1 Agustus
Penjelasan Ilmiah Kelainan pada Sapi
Kedatangan gelombang warga yang penasaran membuat suasana di sekitar lokasi peternakan menjadi jauh lebih ramai dari hari biasanya.
Warga setempat, Sadimin, menyebut kelahiran anak sapi itu menjadi perhatian masyarakat karena sangat jarang terjadi di wilayah tersebut.
“Kalau sapi lahir kembar itu biasa. Tapi kalau satu kepala dengan dua mulut dan tiga mata, baru kali ini saya melihatnya. Warga juga merasa heran jadi berbondong-bondong menyaksikan karena sangat langka,” ungkapnya.
Menanggapi fenomena yang menghebohkan ini, otoritas kesehatan hewan setempat langsung memberikan pandangan ilmiah agar tidak berkembang menjadi rumor mistis.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan, drh. Budi Nur Rochman, menjelaskan kondisi tersebut merupakan kelainan bawaan yang sangat langka.
Dalam dunia medis dan biologi, kondisi hewan yang memiliki lebih dari satu kepala dikenal sebagai polycephaly atau polisefali.
Ia menjelaskan, pada kasus tubuh yang menyatu dengan dua kepala, istilah yang lebih spesifik adalah dicephaly atau dicephalic parapagus.
“Kondisi tersebut merupakan bentuk kembar siam yang terjadi ketika satu sel telur yang telah dibuahi mulai membelah menjadi kembar identik, tetapi proses pembelahannya tidak berlangsung sempurna. Akibatnya, sebagian organ seperti kepala berkembang menjadi dua, sementara bagian tubuh lainnya tetap menyatu,” jelasnya.
Meskipun dalam dunia peternakan dan mitos lokal sapi yang lahir dengan kondisi polisefali sering kali dianggap sebagai keajaiban atau pertanda, secara medis ini murni gangguan genetika.
Fenomena ini adalah kelainan genetik atau gangguan selama perkembangan embrio yang rentan terhadap risiko kesehatan jangka pendek.
“Fenomena ini merupakan kelainan perkembangan embrio yang sangat langka. Sebagian besar hewan yang lahir dengan kondisi polisefali memiliki harapan hidup yang relatif singkat akibat adanya komplikasi pada organ-organ vital,” terangnya.
Penyebab kondisi sapi seperti itu tidak selalu dapat dipastikan secara mutlak di lapangan, karena bisa berkaitan dengan gangguan perkembangan embrio maupun faktor genetik internal dari sel induk.
“Kasus seperti ini juga tidak dapat dicegah secara pasti karena kejadiannya sangat jarang, dan pada akhirnya merupakan kuasa Tuhan,” pungkasnya. (ril/naz)
Editor : Mizan Ahsani