Jawa Pos Radar Madiun – Wayang kulit tak harus berhenti sebagai tontonan generasi terdahulu.
Di tangan dalang muda, kelir bisa menjadi ruang pertemuan antara tradisi dengan generasi yang tumbuh bersama gawai dan media sosial.
Semangat itulah yang bakal dibawa dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Dusun Warutunggal, Desa Tegalarum, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan.
Masyarakat setempat bakal menggelar pagelaran wayang kulit dengan menghadirkan dalang muda Ki Damar, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Bukan sekadar hiburan semalam suntuk. Pagelaran tersebut membawa pesan tentang perjuangan, persatuan, sekaligus pentingnya menjaga kebudayaan di tengah perubahan zaman.
Ki Damar bakal membawakan lakon Kresna Gugah.
Pemilihan cerita tersebut diharapkan menjadi simbol untuk menggugah kembali kesadaran masyarakat terhadap jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Ketua panitia penyelenggara Sirmadi mengatakan, pagelaran tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat Warutunggal untuk menjaga dan melestarikan budaya Jawa.
Peringatan kemerdekaan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempererat kerukunan dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan sendiri.
Baca Juga: Sang Purucona, Lakon Wayang Bagian 1: Rencana Gelap Sengkuni
Ki Damar, Dalang Muda dengan Sentuhan Generasi Baru
Di balik nama panggung Ki Damar adalah Grendy Damara Zulfar Syah, S.Sn., dalang muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Perjalanannya di dunia pedalangan juga telah menghasilkan prestasi. Pada Festival Dalang Muda se-Jawa Timur 2019, Ki Damar berhasil meraih predikat Dalang Penyaji Terbaik.
Latar belakang pendidikan seni dan pengalamannya dari satu panggung ke panggung lain ikut membentuk karakter dalam setiap pertunjukannya.
Ki Damar juga menyerap pengalaman dan ilmu dari sejumlah maestro serta dalang senior, di antaranya Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, dan Ki Bayu Aji.
Proses tersebut kemudian melahirkan karakter tersendiri dalam permainannya. Pakem pedalangan tetap menjadi fondasi, kemudian diperkuat melalui olah sabet, antawacana, suluk, serta dinamika pertunjukan yang dapat dinikmati lintas generasi.
Pendekatan semacam itu menjadi penting ketika wayang harus berhadapan dengan perubahan cara generasi muda menikmati hiburan.
Bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial dan berbagai hiburan digital, pertunjukan wayang mungkin dianggap sebagai kesenian masa lalu. Namun, cerita yang dibawakan di balik kelir sejatinya berbicara mengenai persoalan manusia yang tidak lekang zaman.
Konflik, kekuasaan, kesetiaan, pengkhianatan, keluarga hingga perjuangan menjadi tema-tema yang tetap memiliki relevansi dengan kehidupan hari ini.
Di situlah tantangan dalang muda seperti Ki Damar, yakni menjaga akar tradisi sekaligus membuat wayang tetap mampu berbicara kepada generasinya.
Baca Juga: Ramai Isu Pajak Kontrakan 2027, DJP Ungkap Ternyata Penghasilan Sewa Rumah Sudah Kena PPH
Kresna Gugah, Menggugah Semangat Kemerdekaan
Lakon Kresna Gugah dalam pagelaran kali ini tidak dipilih sebatas sebagai cerita pertunjukan.
Ada semangat “menggugah” yang ingin dibawa bersamaan dengan peringatan 81 tahun Indonesia merdeka.
Kemerdekaan yang dinikmati masyarakat hari ini tidak datang begitu saja. Ada perjalanan panjang, pengorbanan, air mata, bahkan nyawa para pejuang di belakangnya.
Karena itu, peringatan HUT RI dapat menjadi momentum untuk kembali melihat apa yang bisa dilakukan generasi sekarang dalam mengisi dan menjaga kemerdekaan.
Jawabannya tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Menjaga kerukunan, mengenalkan kesenian kepada anak-anak hingga memberi ruang bagi generasi muda untuk mencintai budaya juga menjadi bagian dari merawat warisan para pendahulu.
Pagelaran Kresna Gugah di Warutunggal mencoba membawa semangat tersebut melalui bahasa budaya.
Baca Juga: Diduga Keracunan MBG, Empat Siswa SMKS PPS 2 Ngrambe Ngawi Dilarikan ke Klinik
Wayang Jadi Ruang Pertemuan Lintas Generasi
Malam pagelaran diharapkan menjadi ruang perjumpaan lintas usia. Generasi terdahulu dapat kembali menikmati kesenian yang telah akrab dengan kehidupan mereka, sedangkan anak-anak muda mendapat kesempatan mengenal wayang melalui perspektif dalang generasi baru.
Sebab, status sebagai warisan budaya saja tidak cukup membuat sebuah kesenian terus hidup.
Wayang membutuhkan penonton, dalang, dan seniman yang meneruskannya. Tak kalah penting, kesenian tersebut membutuhkan generasi baru yang bersedia mengenal, mempelajari, mencintai, dan memberinya ruang.
Karena itu, masyarakat Dusun Warutunggal mengajak warga ikut meramaikan pagelaran tersebut. Selain menyaksikan kepiawaian Ki Damar membawakan Kresna Gugah, pertunjukan juga menjadi kesempatan untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.
Perayaan HUT RI ke-81 pun tidak hanya diwujudkan melalui gegap gempita kemerdekaan. Ada ikhtiar menjaga persatuan dan kebudayaan yang ikut diwariskan dari generasi ke generasi. (naz)
Editor : Mizan Ahsani