Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tiga Waduk Memburuk, Ribuan Hektare Lahan Pertanian Terancam Tak Dapat Air Irigasi

Administrator • Selasa, 23 Juli 2019 | 18:03 WIB
MULAI KRITIS: Suasana Waduk Widas dipotret jelang senja Senin (22/7). Volume waduk di Kecamatan Saradan yang sebagaian besar airnya untuk irigasi lahan pertanian di Kabupaten Nganjuk ini menyusut drastis.
MULAI KRITIS: Suasana Waduk Widas dipotret jelang senja Senin (22/7). Volume waduk di Kecamatan Saradan yang sebagaian besar airnya untuk irigasi lahan pertanian di Kabupaten Nganjuk ini menyusut drastis.

CARUBAN – Sekitar 4,6 ribu hektare lahan pertanian padi di sejumlah wilayah Kabupaten Madiun terancam puasa irigasi. Sawah-swah itu penerima distribusi air dari tiga waduk yang volume airnya menyusut signifikan sejak akhir bulan lalu. ‘’Penyusutan kemungkinan terus terjadi,’’ kata Plt Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Maskur Yatim Senin (22/7).


Bedasarkan data per 25 Juni, Waduk Dawuhan mengalami penurunan volume air paling drastis. Normalnya 5,1 juta meter kubik, kini tersisa sekitar 1,9 juta. Waduk di Desa Plumpungrejo, Wonoasri, itu menyusut 3,1 juta meter kubik. Disusul Waduk Notopuro, Pilangkenceng, dari 2,4 juta meter kubik tinggal 724 ribu. Sedangkan daya tampung Waduk Saradan berkurang 1,2 juta meter kubik dari normalnya 2,4 juta. ‘’Penurunan karena intensitas irigasi tidak terputus. Mulai masa tanam pertama hingga kedua,’’ paparnya.


Maskur menyebut satu waduk bisa meng-cover hingga dua kecamatan lebih. Waduk Dawuhan misalnya, mengairi persawahan di Kecamatan Wonoasri, Balerejo, dan sebagian Madiun.


Penyusutan terjadi karena kubikasi air waduk tidak bertambah dampak tidak turunnya hujan dalam beberapa bulan ini. Kondisi tersebut diprediksi terus berlangsung hingga bulan depan. Mengingat musim kemarau kali ini mundur ketimbang tahun lalu. Kala itu ditandai penyusutan mulai Mei dengan durasi cukup panjang. ‘’Kami masih menunggu rekap data terbaru bulan ini,’’ ujar Maskur


Data terbaru sebagai bahan pertimbangan perlu tidaknya menutup pintu waduk. Mengingat kapasitas waduk per bulan lalu masih terbilang aman untuk dialirkan. Penutupan berkonsekuensi terhadap tidak adanya pendistribusian air untuk lahan pertanian hingga datangnya musim penghujan. ‘’Karena sesuai SOP (standard operating procedure, Red) air waduk tidak boleh habis untuk menjaga konstruksi bangunan tidak rusak,’’ tuturnya sembari menyebut persentase sisa air antara satu waduk dengan lainnya berbeda.


Menurut Maskur, penyusutan volume berujung penutupan pintu waduk hampir terjadi setiap tahun. Penyebabnya terjadi pendangkalan akibat sedimentasi yang terbawa air dari hutan. Tidak hanya daya tampung berkurang, kubikasi air yang dialirkan ke lahan pertanian pun sedikit setiap tahun. Kondisi itu diperparah dengan tiadanya normalisasi. Sepengetahuannya, hanya Notopuro yang pernah dikeruk. Itu pun belum tuntas karena keterbatasan anggaran. ‘’Dawuhan dan Saradan belum pernah dikeruk,’’ pungkasnya. (cor/c1/sat)

Editor : Administrator
#jawa pos #radar madiun #berita mejayan #jawa pos radar madiun