GEMARANG, Jawa Pos Radar Madiun – Panen kakao Ismi tidak sebanyak dulu. Pelataran rumah warga Desa Batok, Gemarang, itu kini juga tak lagi sesak biji cokelat dijemur. Ketersediaan pupuk, hama, dan faktor musim disebut biang petani kakao merana. ‘’Buahnya sedikit dan banyak yang busuk,’’ kata Ismi, Rabu (2/2).
Ismi memiliki kebun kakao di desa setempat sekitar satu hektare. Namun, salah satu sumber penghasilan keluarganya itu kini tidak lagi dapat diandalkan. Hasil kebun tanaman bernama ilmiah Theobroma cacao miliknya itu turun drastis. ‘’Dulu satu hektare bisa dapat satu kuintal biji kakao kering sekali panen, sekarang setengah kuintal sudah pol-polan,’’ ungkapnya.
Menurut Ismi, pohon kakao berbuah sedikit karena kurang pupuk. Dalam kondisi normal, dalam setahun satu hektare kebun kakao butuh minimal 10 sak pupuk kemasan 50 kilogram. Namun, beberapa tahun terakhir kebutuhan itu tak terpenuhi akibat kelangkaan pupuk subsidi. ‘’Dua tahun terakhir tidak dirabuk, biasanya pakai Urea atau Phonska,’’ ujarnya.
Sri Muryono, petani lain, mengamini produktivitas kakao turun. Selain kurang pupuk, dia mengatakan bahwa penurunan hasil panen juga disebabkan hama. Termasuk faktor musim penghujan. ‘’Karena tidak dipupuk dan kena hama, jadi makin anjlok,’’ ucap Muryono.
Dia menyebutkan, harga jual kakao masih stabil. Biji kakao kering bisa laku Rp 20 ribu-Rp 25 ribu per kilogram, tergantung kualitas. ‘’Penginnya diberi pupuk dan pestisida yang ampuh, biar buahnya baik lagi,’’ katanya. (den/her)
Editor : Hengky Ristanto