‘’Penataannya kurang pas, sehingga ada yang ramai ada juga yang sepi,’’ kata Nanang, salah seorang pedagang, Kamis (24/11).
Kendati begitu, Nanang hanya bisa pasrah. Minta ditata ulang kecil kemungkinan terwujud. Terlebih banyak pedagang lain yang membuat sekat dan penutup atau bedak untuk berjualan yang biayanya tidak sedikit. ‘’Ya inginnya dari pengelola pasar ada solusi pasti untuk masalah ini,’’ ujarnya.
Wilma Misdi, pedagang lainnya memilih hengkang dari pasar darurat di lahan bekas kantor Kawedanan Dungus tersebut. Dia kembali menempati kios lamanya di Pasar Dungus yang terbakar awal September lalu. Alasannya pun sama, sepi pembeli.
‘’Kemarin itu sudah sempat rapat dua kali dengan pengelola soal penutupan akses jalan tengah, tapi hanya bertahan dua hari setelah itu tidak digubris lagi,’’ ujarnya.
Menurut dia, pembeli kebanyakan belanja sayur. Sehingga, bagian sayur bisa terus ramai. Masalahnya, bagian sayur ditempatkan di bagian depan dan terpisah dengan yang lain. Sehingga, peluang pembeli mendatangi bagian lain hilang.
Terlebih ada beberapa pedagang sayur juga meracang di satu tempat. Sehingga, pembeli enggan berkeliling pasar karena bisa mendapat banyak kebutuhan di satu tempat. ‘’Saat jalan tengah dekat musala ditutup dua hari itu, cukup banyak pembeli yang datang ke bagian selain sayur,’’ imbuhnya.
Wilma dan pedagang lain berharap, pengelola pasar mendengar dan mengabulkan aspirasi mereka. Yakni menjadikan akses jalan hanya dua jalur, di sebelah timur dan barat. Sementara bagian tengah ditutup atau dimanfaatkan untuk parkir atau orang berjualan lain.
Wilma pasrah jika lapaknya di pasar darurat terancam diberikan pedagang lain yang membutuhkan saat memutuskan pindah di Pasar Dungus lama. ‘’Daripada tetap di sana tapi tidak dapat penghasilan, lebih baik di sini (Pasar Dungus lama) masih lumayan pendapatannya,’’ jelasnya. (mg3/sat) Editor : Hengky Ristanto