-----------
DIAMBILNYA potongan kain flanel yang telah terbentuk pola kelopak bunga. Kemudian, Sulastriani merangkainya dengan cara melekatkan beberapa sisinya dengan lem tembak. Aktivitas itu dilakukan secara berulang oleh perempuan tersebut hingga menghasilkan berbagai jenis bunga. Mulai mawar, lili, sakura, hingga garbera.
Setelah bunga-bunga flanel jadi, Ani –sapaan akrab Sulastriani- lantas menyusunnya di atas kertas wrap warna warni dan diikat menjadi buket. ‘’Sudah tiga tahun terakhir saya menekuni kerajinan buket flanel. Hasilnya, lumayan lah,’’ ujar ibu satu anak itu.
Aktivitas Ani membuat kerajinan buket flanel awalnya sekadarkan memanfaatkan waktu luang sepulang kerja di salah satu dealer kendaraan bermotor. ‘’Nemu di Instagram-nya orang Jogja. Saya lihat kok bagus-bagus. Lalu, buka-buka video tutorialnya di media sosial dan coba bikin sendiri,’’ kenangnya.
Bagi Ani, buket flanel tidak kalah dengan buket-buket bunga artifisial maupun bunga kering. Salah satu keunggulannya adalah lebih mudah dikreasi dan fleksible dibentuk. Selain itu, harga bahan flanel cukup terjangkau sehingga marjin keuntungannya lebih besar.
‘’Dari sisi nilai estetikanya bisa cantik asal kreatif merangkai dan memadupadankan. Juga lebih awet karena kalau kotor bisa dicuci,’’ sebutnya.
Untuk menyelesaikan satu buket bunga, Ani membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Dalam sepekan, order yang masuk rata-rata lima. Mulai ukuran kecil hingga super jumbo. Pun, customer bisa request ditambahkan snack, boneka, dan uang.
Selama ini Ani memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan buket flanelnya. Sementara, customer berasal dari Madiun Raya dan Kediri. ‘’Yang pesan kebanyakan justru cowok-cowok untuk kado ulang tahun pacar atau istri,’’ katanya. ‘’Harganya mulai Rp 35 ribu sampai Rp 200 ribu per buket, tergantung ukuran dan isiannya,’’ imbuh Ani. (mg3/isd) Editor : Hengky Ristanto