Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah geliat skena musik independen Indonesia, sebuah proyek musik asal Jakarta mencuri perhatian lewat pendekatan yang tidak biasa.
Duo In Inertia hadir dengan warna ambient/post-rock yang lebih menekankan rasa dibanding struktur lagu konvensional.
Alih-alih mengandalkan vokal dominan, In Inertia membangun atmosfer melalui lapisan suara, tekstur gitar, dan dinamika yang perlahan namun intens.
Hasilnya adalah pengalaman mendengar yang terasa intim, reflektif, sekaligus sinematik.
Baca Juga: Baskara Putra Punya 3 Identitas Musik, Ini Perbedaan .Feast, Hindia, Lomba Sihir
Duo dengan Pendekatan Personal
In Inertia digawangi dua musisi, Fitrah Akbar dan Annissa Utami. Keduanya tidak hanya terlibat dalam produksi musik, tetapi juga dalam arah visual dan konsep artistik.
Kolaborasi ini membuat identitas In Inertia terasa utuh—personal, konsisten, dan emosional.
Musik Tenang Tapi Intens
Karakter musik In Inertia berada di persimpangan ambient, post-rock, shoegaze, hingga dreamgaze.
Mereka dikenal dengan pendekatan komposisi yang tidak terburu-buru.
Build-up perlahan dengan dinamika bertahap
Dominasi gitar atmosferik dan efek reverb
Minim vokal, cenderung instrumental
Nuansa melankolis dan kontemplatif
Debut EP Efflorescence menjadi fondasi awal eksplorasi tersebut. Album ini mengangkat tema memori, pertumbuhan, dan perjalanan emosional yang tenang namun dalam.
Baca Juga: Magis dan Puitis, Lagu Luruh dari Senja dalam Prosa Bikin Hati Bergetar
Album Baru yang Lebih Matang
Perjalanan musikal mereka mencapai fase baru lewat album penuh To Whom It May Concern yang rilis awal tahun lalu.
Album ini berisi 10 lagu yang tersusun seperti satu narasi emosional utuh. Jika rilisan sebelumnya terasa sebagai eksplorasi, karya terbaru ini menunjukkan arah musikal yang lebih matang dan terstruktur.
Beberapa track seperti A Quiet Reflection, Sasari, Through Shadows and Light, menjadi contoh bagaimana mereka membangun emosi secara halus namun tetap berdampak.
Kekuatan Emosi
Salah satu kekuatan utama In Inertia terletak pada kemampuannya menyampaikan emosi tanpa bergantung pada lirik.
Lagu seperti For Every Silence membuktikan bahwa instrumental bisa berbicara lebih dalam dibanding kata-kata.
Baca Juga: Rilis EP “Change”, Meraung Sajikan Musik Indie Pop yang Personal dan Kontemplatif
Layer gitar ambient dan efek reverb yang luas menciptakan sensasi ruang yang sinematik. Pendengar seolah diajak masuk ke dunia yang hening, namun penuh makna.
Dinamika lagu juga dirancang tidak monoton—ada momen sunyi, build-up perlahan, hingga klimaks emosional yang disusun dengan transisi halus.
Perkuat Posisi di Skena Indie
Sebagai duo dari Jakarta, In Inertia menunjukkan bahwa musik instrumental masih memiliki ruang kuat di skena indie Indonesia.
Melalui pendekatan yang jujur dan artistik, mereka tidak hanya menciptakan lagu, tetapi juga pengalaman mendengar yang mendalam.
Album terbaru mereka menjadi penegasan bahwa In Inertia layak diperhitungkan sebagai salah satu proyek post-rock paling menarik saat ini.
Editor : Andi ChorniawanSumber : Radar Madiun