Jawa Pos Radar Madiun - Di era ketika kolaborasi musik bisa lahir tanpa tatap muka, FRAMEWALKERS dan The Mary's Lost Gaze membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer bukanlah penghalang untuk menciptakan karya yang emosional.
FRAMEWALKERS, band shoegaze dan dream pop asal Ulm, Jerman, memperkenalkan single berjudul "home" yang menggandeng The Mary's Lost Gaze dari Surabaya, Indonesia.
Menariknya, proyek ini bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: algoritma playlist Spotify.
Di Balik Kolaborasi Lintas Benua
Awalnya, FRAMEWALKERS merupakan proyek solo milik Christopher Roth yang dibentuk pada awal 2025.
Seiring waktu, proyek tersebut berkembang menjadi band penuh dan mulai mengeksplorasi lanskap suara yang memadukan dinding distorsi gitar, lapisan ambient yang luas, serta vokal melankolis yang terasa intim sekaligus menghanyutkan.
Musik FRAMEWALKERS selalu bergerak di antara dua kutub yang berlawanan. Tenang namun bising. Dekat namun terasa jauh. Jelas tetapi tetap berkabut.
Dari sanalah mereka membangun identitas yang banyak berbicara tentang kerinduan, ingatan, keterasingan, dan hubungan antarmanusia yang rapuh.
Pada 2026, perjalanan musikal itu membawa mereka bertemu dengan The Mary's Lost Gaze.
Kedua proyek tersebut menemukan satu sama lain secara tidak sengaja melalui playlist Spotify yang sama, kemudian mulai berinteraksi lewat Instagram.
Tanpa pernah bertemu langsung, keduanya sepakat menciptakan sebuah lagu bersama.
Hasilnya adalah "home", sebuah nomor shoegaze atmosferik yang justru menjadikan jarak sebagai bagian penting dari proses kreatifnya.
Perpaduan Vokal Pria dan Wanita
Lagu ini dibangun dari lapisan gitar yang tebal, tekstur ambient yang luas, serta perpaduan vokal pria dan wanita yang saling bersahutan. Awalnya, "home" lahir sebagai komposisi personal milik FRAMEWALKERS.
Namun ketika The Mary's Lost Gaze ikut terlibat, lagu tersebut berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Penambahan sudut pandang kedua melalui vokal baru mengubah lagu ini dari monolog yang introspektif menjadi dialog emosional antara dua individu yang dipisahkan oleh ruang dan waktu.
Atmosfer yang tercipta terasa unik. Di satu sisi terdengar jauh dan melankolis, tetapi di saat yang sama juga hangat dan personal.
Seolah mempertegas gagasan bahwa kedekatan emosional tidak selalu membutuhkan kedekatan fisik.
Editor : Andi Chorniawan