Jawa Pos Radar Madiun - Dominasi industri musik arus utama global tidak lantas meredam denyut nadi kreativitas kelompok pemusik yang bergerak di jalur independen.
Dari sudut-sudut kota yang luput dari sorotan media besar, sebuah pergerakan kultural tetap tumbuh subur dengan menyuarakan pesan-pesan ekspresif yang lugas dan penuh kebebasan.
Di balik gemuruh global industri K-pop yang mendominasi pasar Korea Selatan, geliat skena bawah tanah justru terus berdenyut liar dan tidak kalah berpengaruh.
Dari lorong-lorong kecil hingga panggung independen, energi musik keras tetap menemukan jalannya, di mana band Slant hadir sebagai salah satu wajah paling mencolok.
Terbentuk di Seoul pada tahun 2018, Slant dengan cepat mencuri perhatian, bukan hanya di lingkup lokal, tetapi juga hingga ke jaringan hardcore punk internasional.
Diisi oleh para musisi yang telah lebih dulu aktif di band underground seperti Scumraid, mereka membawa fondasi kuat yang kemudian diramu menjadi identitas musikal yang tajam.
Mengambil inspirasi dari aliran hardcore punk klasik era 1980-an, Slant konsisten menyajikan komposisi musik yang cepat, padat, dan penuh daya ledak.
Kombinasi riff gitar yang agresif berpadu dengan gebukan ritmis yang konstan, sementara karakter vokal dari Yeji tampil kasar, lantang, dan penuh amarah sebagai pusat energi utama.
Baca Juga: Team Vitality Awali MWI 2026 dengan Kemenangan, Kuncinya Pelajari Meta Baru
Menggema lewat Label Seattle dan Menjaga Tradisi Kolektif Punk
Langkah kolaborasi bersama label luar negeri menjadi jembatan penting dalam memperluas jangkauan distribusi karya ke berbagai benua.
Nama Slant mulai menggema sejak perilisan demo awal mereka, disusul oleh sebuah mini album (EP) pada tahun 2019 yang dirilis oleh label independen asal Seattle, Iron Lung Records.
Dari titik itu, mereka semakin diperhitungkan sebagai bagian dari gelombang baru hardcore global yang menghidupkan kembali semangat lama dengan pendekatan lebih segar.
Menariknya, seperti tradisi klasik dalam kultur punk, para personel Slant hanya dikenal dengan nama depan mereka, yaitu Yeji, Yuying, Dongwoo, Gunny, dan Garrett.
Keputusan untuk menyamarkan nama belakang ini sengaja dilakukan demi menegaskan sikap kolektif tim yang dinilai jauh lebih penting daripada menonjolkan identitas individual.
Baca Juga: Tumbang dari SAETA, Livia Falcons ID Optimistis Bangkit Lawan Aurora Gaming Mongolia
Album Penuh dengan Ledakan Emosi yang Rapat
Efektivitas durasi lagu tidak mengurangi kualitas pesan dan aransemen yang disajikan kepada para penikmat musik cadas.
Album penuh pertama mereka, yang juga dirilis melalui Iron Lung Records, kini semakin sukses mengukuhkan posisi tawar Slant di mata para kritikus musik dunia.
Meskipun karya tersebut berdurasi relatif singkat, yakni sekitar 17 menit saja, rilisan ini justru dipenuhi oleh ledakan energi yang sangat rapat, cepat, dan sarat emosi.
Kehadiran album perdana tersebut menjadi sebuah pernyataan keras bahwa Slant bukan sekadar band pemuas hobi di waktu senggang belaka.
Band ini telah bertransformasi menjadi representasi penting dari kerasnya denyut hardcore Korea Selatan yang terbukti terus hidup, berkembang, dan siap menantang dominasi pasar. (naz)
Editor : Mizan Ahsani