Olivia Rodrigo Ungkap Sisi Rapuh Lewat “maggots for brains” Kisah Cinta Intens yang Bikin Kehilangan

Dwita Ikhtiananda • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:24 WIB
Olivia Rodrigo album ke 3 (Billboard Phillippines)
Olivia Rodrigo album ke 3 (Billboard Phillippines)

Jawa Pos Radar Madiun - Olivia Rodrigo kembali mengeksplorasi sisi rumit dari jatuh cinta melalui “maggots for brains”. Lagu yang dirilis pada 12 Juni 2026 itu menggambarkan kondisi seseorang yang merasa hidupnya kehilangan warna ketika harus berjauhan dengan orang yang dicintainya.

“maggots for brains” menjadi trek keempat dalam album studio ketiga Olivia Rodrigo, you seem pretty sad for a girl so in love. Alih-alih menyajikan kisah cinta yang sepenuhnya manis, Olivia menggunakan gambaran ekstrem tentang kebosanan, kekosongan, dan pikiran yang kacau untuk menunjukkan betapa besarnya pengaruh seseorang terhadap kehidupan pasangannya.

Pendekatan tersebut membuat lagu Olivia Rodrigo ini memiliki karakter berbeda dibandingkan sejumlah lagu patah hatinya. Konfliknya bukan berpusat pada pengkhianatan atau berakhirnya hubungan, melainkan ketidakmampuan menjalani hari seperti biasa ketika orang yang dicintai sedang tidak berada di dekatnya.

Makna Lagu “maggots for brains” Olivia Rodrigo

Secara garis besar, makna lagu maggots for brains berbicara tentang rasa rindu yang begitu intens hingga memengaruhi cara seseorang menjalani kesehariannya. Olivia menggambarkan tokoh dalam lagu yang menjalani hari monoton, kesulitan menulis, merasa bosan, dan bahkan tidak mendapatkan kesenangan ketika datang ke sebuah pesta.

Kondisi emosional itu kemudian diterjemahkan melalui sejumlah metafora yang sengaja dibuat tidak cantik. Olivia menggunakan gambaran tubuh seperti zombie, kereta yang keluar dari jalurnya, hingga perasaan seolah dirinya membusuk untuk menunjukkan betapa kacau hidup sang tokoh ketika orang yang dicintainya pergi.

Di sinilah judul “maggots for brains” memperoleh kekuatannya. Secara literal, frasa tersebut bisa diterjemahkan sebagai “belatung di otak”, tetapi dalam konteks lagu, gambaran itu digunakan sebagai metafora mengenai pikiran yang terasa tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena terus dipenuhi oleh seseorang.

Olivia tidak mencoba membuat kerinduan terdengar selalu romantis. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa rasa cinta yang sangat besar juga dapat membuat seseorang merasa tidak produktif, kehilangan fokus, dan terlalu bergantung secara emosional terhadap kehadiran pasangannya.

Baca Juga: Olivia Rodrigo “drop dead”, Kisah Jatuh Cinta sampai Kehilangan Kendali

Terinspirasi Miranda dan Steve di Sex and the City

Cerita di balik “maggots for brains” menjadi semakin menarik karena Olivia Rodrigo mendapatkan inspirasi dari salah satu serial favoritnya, Sex and the City. Secara khusus, inspirasi tersebut datang dari hubungan antara karakter Miranda Hobbes dan Steve Brady.

Olivia membicarakan inspirasi itu ketika tampil dalam The Tonight Show Starring Jimmy Fallon. Salah satu bagian hubungan Miranda dan Steve yang membekas baginya adalah gagasan sederhana tentang keinginan untuk menceritakan setiap kejadian lucu kepada seseorang yang sangat dekat dengan kehidupan kita.

Momen tersebut membuat Olivia melihat cinta bukan hanya melalui gestur romantis yang besar. Kedekatan justru dapat terlihat dari kebiasaan kecil ketika seseorang secara otomatis menjadi orang pertama yang ingin kita hubungi setiap kali sesuatu terjadi.

Gagasan itu kemudian berkembang menjadi “maggots for brains”. Ketika orang tersebut tidak ada, rutinitas yang sebelumnya terasa biasa mendadak kehilangan makna dan dunia seakan menjadi jauh lebih hambar.

Cinta Digambarkan sebagai Kehilangan Kendali

Berbeda dari gambaran cinta ideal yang lazim ditemukan dalam lagu pop, Olivia Rodrigo memilih bahasa yang lebih kasar dan tidak nyaman. Tubuh, kebusukan, kehampaan, hingga kehilangan kendali digunakan untuk memperlihatkan sisi jatuh cinta yang tidak selalu terlihat indah.

Pendekatan tersebut juga menciptakan ironi. “maggots for brains” pada dasarnya adalah lagu tentang merindukan seseorang, tetapi Olivia tidak membungkus kerinduan itu dengan gambaran bunga, langit, atau kenangan romantis.

Ia justru memperlihatkan apa yang terjadi ketika ketidakhadiran seseorang membuat kehidupan terasa berantakan. Perasaan cinta dalam lagu ini begitu kuat hingga memengaruhi produktivitas, suasana hati, dan cara sang tokoh memandang lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, lagu tersebut juga dapat dibaca sebagai potret kerentanan dan ketergantungan emosional. Olivia memperlihatkan bagaimana kebahagiaan yang terlalu bergantung pada satu orang dapat membuat kesendirian terasa jauh lebih berat.

Baca Juga: Olivia Rodrigo Rilis “honeybee”, Lagu Cinta yang Diam-Diam Menyimpan Ketakutan Kehilangan

Ditulis Bersama Dan Nigro dan Amy Allen

Olivia Rodrigo menulis “maggots for brains” bersama dua kolaboratornya, Daniel Nigro dan Amy Allen. Daniel Nigro juga bertindak sebagai produser sekaligus memainkan sejumlah instrumen, termasuk gitar dan bass, serta menangani programming dalam lagu tersebut.

Kredit resmi Apple Music turut mencantumkan Sterling Mitchell Laws pada drum dan Ben Romans pada piano. Sementara itu, Lily Elise dan Daniel Nigro mengisi vokal latar yang mendukung vokal utama Olivia Rodrigo.

Kolaborasi dengan Dan Nigro kembali mempertahankan salah satu kekuatan utama musik Olivia, yakni storytelling yang sangat personal tetapi tetap mudah dikaitkan dengan pengalaman pendengarnya.

“maggots for brains” Tembus Chart Amerika dan Inggris

Meski bukan sekadar mengandalkan judul yang mencolok, maggots for brains Olivia Rodrigo juga mendapat respons kuat setelah album ketiganya dirilis.

Data Official Charts Company mencatat “maggots for brains” mencapai posisi ke-10 di Official Streaming Chart Inggris. Lagu tersebut pertama kali masuk chart pada 25 Juni 2026 dan bertahan selama empat pekan.

Di Amerika Serikat, catatan MusicBrainz yang mengacu pada data tangga lagu menunjukkan “maggots for brains” masuk Billboard Hot 100 dan mencapai posisi ke-12 pada chart bertanggal 27 Juni 2026. Lagu itu kemudian masih tercatat di Hot 100 dalam beberapa pekan berikutnya.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa lagu album dengan pendekatan emosional yang tidak biasa tetap mampu menarik perhatian luas.

Sisi Cinta yang Tidak Selalu Terlihat Indah

Melalui “maggots for brains”, Olivia Rodrigo kembali membuktikan kemampuannya menemukan cerita dalam emosi yang sangat spesifik. Kali ini, ia tidak berbicara tentang sakit setelah ditinggalkan untuk selamanya, melainkan kekosongan sementara ketika seseorang yang dicintai sedang tidak berada di dekatnya.

Perasaan tersebut kemudian dibesar-besarkan melalui metafora yang gelap dan sedikit grotesk. Hasilnya adalah lagu cinta yang terdengar tidak seperti lagu cinta pada umumnya.

Pada akhirnya, makna lagu maggots for brains memperlihatkan kontradiksi dalam jatuh cinta. Kehadiran seseorang bisa membuat kehidupan terasa jauh lebih menyenangkan, tetapi pada saat bersamaan, ketidakhadirannya dapat membuat dunia mendadak terasa datar.

Di balik judulnya yang terdengar menyeramkan, “maggots for brains” justru berbicara tentang pengalaman yang sangat sederhana: ketika seseorang menjadi begitu penting hingga hampir semua hal yang terjadi dalam hidup membuat kita ingin memikirkannya.

Editor : Dwita Ikhtiananda
Sumber : Radar Madiun
olivia rodrigo you seem pretty sad for a girl so in love album ke 3 maggots for brains