Jawa Pos Radar Madiun – Kho Ping Hoo, salah satu penulis legendaris dalam dunia cerita silat Indonesia, tidak hanya dikenal karena alur cerita yang mengesankan.
Dia juga teliti dalam menggambarkan latar belakang sejarah dan budaya.
Menurut Bunawan Sastraguna, menantu Kho Ping Hoo, penulis ini memiliki patokan yang jelas dalam setiap karyanya.
Yaitu tempat, gunung, sungai, dan dinasti, serta karakter masyarakat di setiap dinasti tersebut.
‘’Ada zaman kerajaan yang rakyatnya tidak boleh dikuncir rambutnya. Nah, penempatan karakter yang seperti itu tidak boleh salah,’’ terang Om Bun, sapaan Bunawan Sastraguna.
Dalam cerita-ceritanya, masyarakat Tiongkok pada zaman dinasti tertentu sering kali digambarkan dengan cermat.
Salah satu ciri khas yang sering muncul adalah rambut berkuncir.
Sebuah simbol penting dalam budaya masyarakat Tiongkok yang memberikan kesan autentik dalam setiap karakter yang ia tuliskan.
Elemen-elemen kecil ini mungkin terlihat sepele.
Namun, bagi Kho Ping Hoo, setiap detail adalah bagian dari keakuratan yang tak bisa diabaikan.
Suatu ketika, Om Bun pernah menanyakan langsung perihal ini kepada Kho Ping Hoo.
‘’Nama-nama kampung itu apakah sudah tepat?,’’ tanya Om Bun.
Lantas, Kho Ping Hoo memberikan jawaban dengan bijaksana.
‘’Tempat atau kampung itu suatu saat bisa berubah atau hilang. Tetapi kalau gunung atau sungai besar tetap ada. Nah, nama gunung dan sungai yang tidak boleh salah,’’ jawab Kho Ping Hoo.
Meskipun berpegang pada sejarah yang akurat, Kho Ping Hoo tetap memberi ruang yang luas bagi imajinasi.
Itulah yang menjadikan satu ciri khas karya-karya ceritanya begitu memikat pembaca.
Sebagai contoh, dalam banyak cerita silat Kho Ping Hoo, terdapat karakter-karakter pahlawan yang sepenuhnya berasal dari khayalan.
Atau, pertempuran yang lebih besar dari kenyataan.
Meskipun begitu, latar belakang geografis dan sejarahnya tetap dijaga dengan ketelitian luar biasa.
Ia sering merujuk pada peta-peta dan kondisi alam Tiongkok yang ada pada masa itu.
Seperti sungai-sungai besar, pegunungan, dan dinasti-dinasti tertentu.
Hal itu tak sekadar menjadi elemen latar, tetapi juga bagian penting dari cerita.
‘’Sungai tidak hilang, gunung tidak hilang, itu adalah hal-hal yang tak pernah berubah,’’ tegasnya.
Di dunia sastra Indonesia, Kho Ping Hoo telah meninggalkan jejak yang sangat besar.
Dengan menggabungkan imajinasi dan ketelitian, ia menciptakan cerita silat yang bukan hanya menghibur tetapi juga penuh dengan makna yang mendalam. (fin)
Editor : Mizan Ahsani