Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo Bagian 16: Ketika sang Maestro Kisahkan Banjir di Solo

AA Arsyadani • Minggu, 23 Februari 2025 | 14:30 WIB
Temukan kisah langka Kho Ping Hoo dalam Geger Solo dan Merdeka atau Mati.
Temukan kisah langka Kho Ping Hoo dalam Geger Solo dan Merdeka atau Mati.

Jawa Pos Radar Lawu - Karya Kho Ping Hoo memang fiksi, tetapi banyak yang berlatar kejadian nyata.

Salah satunya adalah Geger Solo, novel langka yang pertama kali diterbitkan CV Gema pada 1979.

Novel ini merespons banjir bandang yang menerjang Solo pada 1966.

Bencana itu menyebabkan kerusakan besar, menghancurkan ratusan rumah, dan membuat ribuan keluarga menderita.

Banjir Bengawan Solo saat itu begitu dahsyat.

Empat tanggul jebol, dengan yang terpanjang mencapai 191 meter.

Diperkirakan kerugian mencapai miliaran rupiah.

Bahkan, untuk menangani dampaknya, lebih dari 4.000 orang bekerja tanpa henti setiap hari.

Kini, Geger Solo menjadi salah satu karya langka yang sulit ditemukan di toko buku konvensional.

Namun, bagi kolektor dan penggemar setia Kho Ping Hoo, masih ada kesempatan mendapatkannya.

Beberapa koleksi bukunya masih tersimpan di kediamannya di Kampung Mertokusuman, Solo.

Di sana, para pencinta cerita silat bisa berburu novel-novel yang jarang beredar.

Jika beruntung, mereka juga bisa berdiskusi dengan Bunawan Sastraguna, menantu sang maestro yang turut menjaga warisan sastra keluarga.

Selain Geger Solo, novel Merdeka atau Mati yang terbit pada 1965 juga menjadi karya penting Kho Ping Hoo.

Novel ini mengisahkan perjuangan kemerdekaan Indonesia, memperlihatkan sisi heroik dalam dunia kepenulisan Kho Ping Hoo yang lebih dikenal dengan cerita silatnya.

“Dua buku itu wajib dikoleksi,” ujar pemerhati sejarah, Ari Headbang, kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Bagi penggemar sastra dan cerita silat, jejak Kho Ping Hoo tidak hanya menyuguhkan kisah epik.

Akan tetapi juga menyajikan potongan sejarah yang layak untuk dikenang. (fin)

 

Editor : Mizan Ahsani
#Kho Ping Hoo #banjir bengawan solo #kemerdekaan indonesia