Jawa Pos Radar Madiun - Kemegahan Masjid Nabawi di Kota Madinah menyimpan kisah menyentuh di balik pembangunannya.
Siapa sangka, masjid yang kini menjadi salah satu pusat peradaban Islam itu dulunya berdiri di atas tanah milik dua anak yatim.
Tanah tersebut awalnya hanyalah sebuah lapangan sederhana yang dimanfaatkan untuk menjemur kurma oleh dua kakak beradik yatim piatu, Sahal dan Suhail.
Saat Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat hijrah dari Mekkah ke Yastrib (kini Madinah), tanah itu dipilih sebagai lokasi pembangunan masjid pertama.
Awalnya, Sahal dan Suhail enggan menjual tanah mereka. Keduanya ingin mewakafkannya untuk Rasulullah SAW.
Namun, Nabi menolak menerima pemberian itu secara cuma-cuma.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap hak kepemilikan – terlebih milik anak yatim – Rasulullah memutuskan untuk membelinya dengan harga yang pantas.
Dari tanah itulah kemudian berdiri Masjid Nabawi. Awalnya masjid ini hanya seluas 1.050 meter persegi.
Tujuh tahun setelah hijrah, Rasulullah memperluasnya menjadi 1.452 meter persegi usai kembali dari Perang Khaybar.
Rumah Rasulullah SAW sendiri berada tepat di samping masjid tersebut.
Di situlah beliau wafat dan dimakamkan, bersama dua sahabat karibnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA.
Lokasi pemakaman mereka kini menjadi bagian dari kompleks Masjid Nabawi, tepatnya di area yang dikenal sebagai Raudhah.
Kini, Masjid Nabawi menjadi magnet jutaan muslim dari seluruh dunia yang datang untuk beribadah, baik saat haji maupun umrah.
Masjid ini bukan hanya simbol keagungan Islam, tetapi juga bukti nyata bagaimana Rasulullah menjunjung tinggi keadilan dan hak kepemilikan—bahkan dari anak-anak yatim. (her)
Editor : Hengky Ristanto