Jawa Pos Radar Madiun – Lanud Iswahjudi di Magetan bukan sekadar pangkalan udara.
Sejak era kemerdekaan hingga HUT ke-80 RI, pangkalan ini menjadi salah satu titik vital dalam setiap operasi militer strategis Indonesia, baik dalam skala nasional maupun internasional.
Dalam catatan sejarah, keterlibatan Lanud Iswahjudi tampak nyata mulai dari Operasi Trikora (1961-1962), Dwikora (1963-1966), hingga Operasi Seroja di Timor Timur (1975).
Peranannya tidak hanya sebatas penyedia armada dan personel, tetapi juga sebagai pusat pelatihan, logistik, hingga pos komando operasi terpadu.
Pada masa Operasi Trikora, Lanud Iswahjudi menjadi pangkalan utama bagi pesawat bomber strategis seperti TU-16 KS dan TU-16 serta jet tempur MiG-21.
Pesawat-pesawat ini disiapkan untuk mendukung misi pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda.
Selain menyediakan armada udara, Lanud ini juga berfungsi sebagai tempat pelatihan dan perawatan pesawat. Peran strategisnya meliputi pengintaian udara, pengawalan, hingga serangan langsung ke wilayah sasaran.
Dalam Operasi Dwikora, Lanud Iswahjudi kembali menjadi pusat konsolidasi kekuatan udara, terutama untuk menghadapi ketegangan dengan Malaysia.
Pangkalan ini menjadi tempat pengisian logistik dan pengiriman pasukan melalui jalur udara ke wilayah perbatasan di Kalimantan.
Misi operasi yang didukung antara lain patroli udara, pengawalan pesawat angkut, dan serangan udara terbatas sebagai bentuk tekanan militer pada masa konfrontasi.
Tahun 1975, saat Indonesia melancarkan Operasi Seroja untuk mengintegrasikan Timor Timur, Lanud Iswahjudi kembali menjadi pangkalan kunci.
Di sinilah pusat pengiriman pasukan dan logistik melalui udara menuju Dili dan sekitarnya.
Fungsi Lanud meluas menjadi pusat koordinasi operasi udara, evakuasi medis, hingga pengamanan jalur udara untuk mendukung operasi gabungan TNI.
Armada seperti F-5 dan Hawk MK-53 dikerahkan dari sini untuk melaksanakan operasi Hanud (Pertahanan Udara) di wilayah Timor.
Peran Lanud Iswahjudi tidak berhenti pada operasi masa lalu.
Dalam era modern, pangkalan ini tetap menjadi ujung tombak operasi pertahanan nasional.
1. Operasi Terpadu di Aceh
F-16 dari Lanud Iswahjudi dikerahkan untuk mendukung operasi militer di Aceh selama masa konflik.
2. Operasi Balat Terbang 2005
F-16 kembali berperan mengamankan perairan Ambalat yang menjadi sengketa dengan Malaysia.
3. Operasi Hanud dan Pengamanan Perbatasan
Sepanjang tahun, lanud ini aktif menjalankan misi pengamanan udara di wilayah perbatasan.
Itu huga termasuk jalur ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), dan pulau-pulau terluar Indonesia.
Dengan armada tempur seperti F-16, Hawk, dan pesawat pengintai, Lanud Iswahjudi memastikan langit Indonesia tetap aman.
Pangkalan ini tak hanya berperan dalam pertahanan udara, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan diplomasi militer Indonesia melalui show of force di kawasan strategis.
Tak heran jika setiap momen penting dalam sejarah militer Indonesia selalu menempatkan Lanud Iswahjudi sebagai pangkalan yang tak tergantikan. (ril/naz)
Editor : Mizan Ahsani