Jawa Pos Radar Madiun - Presiden Prabowo Subianto menggelar dialog dengan sejumlah tokoh di Istana Kepresidenan di Jakarta, Kamis 11 September 2025.
Informasi yang dihimpun, pertemuan atau diskusi itu berlangsung kurang lebih selama tiga jam.
Salah satu topik yang dibahas serius adalah isu darurat militer. Presiden Prabowo menegaskan komitmennya menjaga supremasi sipil saat merespons isu yang ditanyakan Gerakan Nurani Bangsa (GNB) dalam pertemuan tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Lukman Hakim Saifuddin, anggota GNB yang juga mantan Menteri Agama era tahun 2014-2019.
"Itu salah satu poin yang kami sampaikan (terkait isu darurat militer), bahwa supremasi sipil harus ditegakkan, dan Presiden berkali-kali menyatakan bahwa komitmennya untuk itu, bahwa Presiden berkomitmen untuk menegakkan supremasi sipil,” terangnya saat ditemui di Istana Kepresidenan setelah pertemuan GNB dengan Presiden Prabowo, seperti dilansir dari JawaPos.com.
Lantaran itu, dirinya juga tidak segan mengajak masyarakat untuk melihat langsung komitmen dan janji Presiden untuk terus menjaga supremasi sipil.
“Kita lihat saja ke depan seperti apa, mudah-mudahan apa yang Beliau sampaikan, yang Beliau janjikan itu terealisasikan dalam tataran implementasi,” katanya.
Terkait dengan supremasi sipil, GNB juga menyoroti keterlibatan militer dalam berbagai ruang sipil.
GNB menyampaikan kepada Presiden, bahwa TNI harus ditempatkan sebagai tentara yang profesional yang artinya prajurit-prajurit TNI jangan dibebani dan disibukkan dengan tugas-tugas di luar tugas pokok dan fungsi.
“Untuk menjadikan (prajurit) profesional, dia harus fokus. Kita itu (ingin) TNI ini betul-betul kuat pada diri bangsa ini. Maka, jangan lagi kemudian disibukkan dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan peran dan tugas pokoknya. Jadi, itu hakikatnya adalah manifestasi dari supremasi sipil,” ujar dia.
Gerakan Nurani Bangsa juga meminta Presiden Prabowo segera membentuk komisi untuk reformasi Polri dan membentuk komisi investigasi yang secara independen menyelidiki rangkaian kerusuhan pada Agustus 2025.
Presiden Prabowo, sebagaimana disampaikan Lukman dan anggota GNB lainnya, menyetujui usulan pembentukan komisi untuk reformasi Polri dan komisi investigasi independen untuk menyelidiki rangkaian kerusuhan yang disebut GNB sebagai "Prahara Agustus" itu.
Gerakan Nurani Bangsa yang hadir dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan tersebut adalah Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Prof M Quraish Shihab, KH Ahmad Mustofa Bisri, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo, Omi Komariah Nurcholish Madjid.
Berikutnya, Prof Dr Amin Abdullah, Bhikkhu Pannyavaro Mahathera, Alissa Q Wahid, Lukman Hakim Saifuddin, Karlina Rohima Supelli, Pendeta Jacky Manuputty, Pendeta Gomar Gultom, Romo A Setyo Wibowo SJ, Erry Riyana Hardjapamekas, Eri Seda, Laode Moh Syarif, Makarim Wibisono, Komaruddin Hidayat, dan Slamet Rahardjo. (*)
Editor : Budhi Prasetya