Jawa Pos Radar Madiun – Kabupaten Indramayu kian menegaskan posisinya sebagai lumbung padi nasional dengan menerapkan transformasi sistem pertanian yang lebih modern.
Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Lahan seluas 5 hektare di Desa Wanasari, Kecamatan Bangodua, kini menjadi laboratorium hidup bagi pembaruan sektor pertanian.
Lahan tersebut dikelola PT Bumi Wiralodra Indramayu (PT BWI) sebagai BUMD yang menjadi motor penggerak transformasi ini.
Bupati Indramayu Lucky Hakim mengatakan, program ini menyasar petani muda agar memahami cara menanam yang efektif dan efisien.
“Pemda akan melatih petani-petani muda secara praktik agar mereka terlibat aktif dalam pengembangan pertanian,” ujarnya.
Program ini sekaligus menjadi wadah regenerasi petani sehingga anak muda tidak lagi memandang pertanian sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan.
Hasil uji coba di demplot menunjukkan penggunaan pupuk hemat hingga 50 persen, namun produktivitas padi justru meningkat sekitar 10–20 persen.
Perwakilan tim percepatan pembangunan, Jony Eko Saputro, menyebut kunci keberhasilan ada pada pemulihan kesuburan tanah dengan pupuk organik.
“Anakan batang padinya lebih banyak. Kalau biasanya 20–25, sekarang bisa sampai 40 anakan,” ujarnya.
Direktur Utama PT BWI Robani Hendra Permana menargetkan produksi padi meningkat.
Dari rata-rata 6 ton per hektare menjadi 9 ton per hektare.
Tidak hanya gabah, BUMD akan mengolah sekam, jerami, dan hasil pascapanen lain agar memiliki nilai tambah.
Selain menurunkan biaya produksi, pemerintah daerah juga memikirkan aspek pemasaran. PT BWI akan menyerap gabah petani sehingga harga tetap stabil.
Dengan inovasi ini, Indramayu diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai penyokong swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
“Transformasi ini bukan hanya untuk hasil panen, tapi juga untuk menciptakan pasar yang berpihak pada petani,” tegas Lucky. (*)
Editor : Mizan Ahsani