Jawa Pos Radar Madiun - Kerajaan Arab Saudi memperkuat kemitraan pendidikan dengan Indonesia melalui pembangunan Pusat Studi Bahasa Arab beranggaran besar di Banda Aceh.
Proyek strategis ini diharapkan menjadi pilar baru kerja sama dua negara, khususnya dalam pendidikan dan budaya.
Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah H. Amodi, menegaskan komitmen negaranya terhadap kolaborasi tersebut.
"Saya berharap pembangunan gedung lembaga Pendidikan Bahasa Arab Khadim al-Haramain al-Syarifain Raja Abdullah bin Abdulaziz di Banda Aceh menjadi pendorong utama kerja sama di sektor pendidikan dan budaya antara kedua negara yang bersahabat," katanya.
Pernyataan itu disampaikan dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Institut Penjaga Dua Kota Suci (Ma'had Khodim Al-Haromain Al-Syarifain) di Jakarta, Senin (1/12).
Proyek yang dilaksanakan melalui kerja sama Pusat Bantuan Kemanusiaan Raja Salman (KSRelief) dan Universitas Imam Muhammad bin Saud tersebut menelan biaya sekitar 46 juta riyal Arab Saudi atau setara Rp204 miliar.
"Inisiatif Kerajaan Arab Saudi hari ini merupakan bagian dari dukungannya terhadap sektor pendidikan, baik di dalam negeri maupun di negara-negara sahabat," ujarnya.
Dubes Faisal menjelaskan bahwa program ini merupakan arahan langsung Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman Al Saud.
Kehadiran pusat studi ini, katanya, merupakan kontribusi nyata Arab Saudi terhadap penguatan hubungan bilateral.
Ia menambahkan bahwa hubungan Indonesia–Arab Saudi kini terus bergerak maju.
"Hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi saat ini terus mengalami kemajuan dan itu sesuai dengan keinginan dari kedua pemimpin negara untuk memperkuat hubungan bilateral dan meningkatkannya ke level strategis di semua bidang, politik, ekonomi, dan budaya," tuturnya.
Lebih jauh, Dubes menegaskan bahwa pembangunan pusat studi ini merupakan wujud perhatian Arab Saudi terhadap komunitas Muslim dunia.
"Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas Muslim dan perhatian terhadap Bahasa Arab dan tentang keislaman sangat tinggi sekali dan karena itulah kerajaan menetapkan pusat studi (di Aceh)," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas dukungan penuh terhadap realisasi proyek tersebut.
Dengan pembangunan pusat studi ini, Aceh berpeluang besar menjadi pusat pembelajaran Bahasa Arab dan kajian keislaman yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. (fin)
Editor : AA Arsyadani