Jawa Pos Radar Madiun - Ferry Irwandi berhasil menghimpun donasi publik sebesar Rp 10,3 miliar dalam 24 jam untuk korban banjir dan longsor di Sumatera.
Aksi ini menjadi viral setelah banyak unggahan di media sosial menyoroti keterlibatannya.
Namun, muncul narasi negatif yang menuding Ferry menyatakan pemerintah tidak hadir dalam penanganan bencana.
Melalui Instagram pribadinya, ia menegaskan:
“Pertama, saya tidak mengatakan bahwa pemerintah tutup mata. Kedua, saya tidak pernah mempolitisasi isu tersebut dan tidak membuat konten soal isu sensitif itu.”
Ferry menambahkan bahwa selama di lapangan, ia berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah, untuk menyalurkan bantuan secara efektif.
“Semua merasa saling berbagi kerja dan berjalan dengan baik. Jangan seperti ini, buat apa,” ujarnya.
Kasus ini menegaskan pentingnya komunikasi publik yang tepat.
Aksi relawan dan kreator digital dapat cepat menarik simpati masyarakat, sementara kinerja pemerintah yang lebih besar berpotensi tidak terekspose jika komunikasi tidak optimal.
Diharapkan penyebaran informasi lebih terkoordinasi sehingga masyarakat memahami upaya pemerintah, termasuk bantuan besar dan pengerahan aparat di lapangan.
Penanganan bencana membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, relawan, NGO, dan masyarakat agar fokus pada pemulihan warga terdampak, bukan saling menyudutkan. (fin)
Editor : AA Arsyadani