Jawa Pos Radar Madiun – Sebuah ironi menyesakkan dada tengah menjadi perbincangan panas publik di awal tahun 2026 ini.
Di saat pemerintah gencar menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul fakta ketimpangan kesejahteraan yang menampar dunia pendidikan.
Sorotan tajam tertuju pada perbandingan penghasilan antara sopir pengantar menu MBG dengan para guru honorer.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengungkap data yang bikin geleng-geleng kepala.
Dalam hitungan bulanan, penghasilan seorang sopir pengantar katering MBG bisa menyentuh angka Rp 3 juta.
Angka ini bagaikan langit dan bumi jika disandingkan dengan upah guru honorer di berbagai pelosok daerah termasuk di wilayah Madiun Raya yang masih banyak menerima gaji ratusan ribu rupiah saja per bulan.
Baca Juga: Takut Dimarahi Istri, Warga Bendo Magetan Nekat Bikin Laporan Curanmor Palsu
Kurir Makanan vs Pengantar Ilmu
Perbedaan mencolok ini bukan sekadar soal siapa yang lebih dulu mengisi perut siswa. Ini adalah cermin retaknya prioritas kebijakan negara.
Guru, yang sejatinya adalah tulang punggung pencetak generasi emas dan "pengantar ilmu", justru kalah sejahtera dibandingkan tenaga teknis program populis.
Ketimpangan ini memicu pertanyaan kritis.
Apakah negara lebih mementingkan program jangka pendek dibanding investasi jangka panjang melalui pemuliaan para pendidik?
Guru Nyambi Demi Sambung Hidup
Realitas di lapangan kian memilukan.
Tanpa gaji yang layak, fokus guru untuk mendidik menjadi ambyar.
Banyak "Oemar Bakrie" masa kini yang harus banting tulang mencari pekerjaan tambahan sepulang mengajar.
Ada yang bekerja serabutan, menjadi ojek, bahkan rela memulung barang bekas demi dapur tetap ngebul.
Kondisi fisik dan mental yang kelelahan membuat kualitas pengajaran di kelas menjadi taruhan. Bagaimana bisa mencetak murid cerdas jika gurunya dibebani kecemasan ekonomi keluarga?
Ancaman Krisis Guru Berkualitas
Jika fenomena "Sopir Lebih Makmur dari Guru" ini terus dibiarkan, Indonesia menghadapi ancaman serius di masa depan.
Profesi guru akan kehilangan daya tariknya di mata generasi muda.
Negara-negara maju menempatkan guru sebagai aset strategis dengan bayaran tinggi.
Sebaliknya, jika kita hanya fokus memberi makan fisik (gizi) tapi menelantarkan pemberi makan akal (guru), cita-cita Indonesia Emas bisa jadi hanya angan-angan.
Pemerintah didesak segera menata ulang prioritas. Program gizi itu penting, tapi kesejahteraan guru adalah fondasi yang tak boleh runtuh. (naz)
Editor : Mizan Ahsani