Jawa Pos Radar Madiun – Kalimat “kalau gajinya kecil, kenapa tidak keluar saja” sering terdengar sederhana, bahkan masuk akal di telinga banyak orang.
Namun di balik kesederhanaannya, kalimat itu menyimpan luka panjang yang tidak sesederhana logikanya. Ia lahir bukan dari pemahaman, melainkan dari jarak—jarak dari realitas hidup orang lain.
Tidak semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan satu tombol bernama “keluar”.
Perspektif itu mudah diucapkan dari ruang yang nyaman, tapi menjadi timpang ketika dibawa ke pelosok negeri.
Ke daerah-daerah terpencil, ke ujung Kalimantan, ke wilayah dengan akses jalan rusak, listrik tidak menentu, dan internet nyaris tidak ada.
Di tempat-tempat seperti itulah sekolah tetap berdiri, murid tetap ada, dan anak-anak terus bertambah.
Masalahnya, jumlah guru berstatus PNS atau ASN sangat terbatas. Banyak yang pensiun, sementara rekrutmen baru tidak sebanding dengan kebutuhan.
Kekosongan itulah yang selama bertahun-tahun ditutup oleh guru honorer.
Mereka hadir bukan karena sistem yang adil, tetapi karena pendidikan tidak bisa menunggu.
Jika semua guru honorer benar-benar memilih pergi, siapa yang akan mengajar? Pertanyaan ini mungkin tidak terasa di kota besar, tetapi menjadi krusial di daerah terpencil.
Di sana, absennya satu guru bisa berarti lumpuhnya proses belajar satu sekolah.
Narasi “sudah tahu gajinya kecil, kenapa tidak keluar” sesungguhnya merupakan bentuk victim blaming.
Persoalan struktural—upah rendah, status kerja yang tidak pasti, dan kebijakan yang setengah hati—dipindahkan bebannya kepada individu.
Ketimpangan sistem disederhanakan seolah-olah itu murni pilihan personal.
Cara berpikir seperti ini adalah bentuk penyederhanaan berlebihan.
Masalah yang kompleks dipaksa selesai dengan dua opsi ekstrem: bertahan sambil diam, atau pergi tanpa konsekuensi.
Padahal kehidupan guru honorer hampir selalu berada di wilayah abu-abu—tidak aman, tidak pasti, dan melelahkan secara mental maupun ekonomi.
Bertahan bukan berarti lemah, dan pergi bukan berarti salah.
Persoalan utamanya bukan pada manusianya, melainkan pada sistem yang memaksa orang-orang baik memilih antara idealisme dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Antara pengabdian dan dapur yang harus tetap berasap.
Empati tidak lahir dari kalimat bernada menggurui, melainkan dari kesediaan untuk mendengar tanpa menghakimi.
Seseorang tidak selalu membutuhkan nasihat terlebih dahulu; yang lebih dibutuhkan adalah pengakuan bahwa perjuangannya nyata dan layak dihargai.
Banyak orang hari ini mampu membaca, berpikir, dan keluar dari keterbatasan karena ada guru yang memilih bertahan, meski hidupnya sering diremehkan.
Ironisnya, mereka yang menjaga masa depan bangsa justru dituntut paling mengerti, paling ikhlas, dan paling sedikit menuntut hak.
Maka pertanyaannya barangkali bukan lagi, mengapa guru honorer tidak memilih keluar. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sistem seperti apa yang membuat orang-orang sebaik ini terus hidup dalam ketidakadilan? (naz)
Editor : Mizan Ahsani