Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Ironi Guru Honorer: Pagi Mengajar, Malam Narik Ojol Demi Bertahan Hidup

Grendy Damara • Rabu, 4 Februari 2026 | 09:20 WIB

Ilustrasi ojol atau ojek online.  R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN
Ilustrasi ojol atau ojek online. R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Di balik seragam rapi dan senyum tulus saat menyapa murid di gerbang sekolah, tersimpan cerita pilu yang tak banyak diketahui orang.

Realitas guru honorer di wilayah Madiun Raya dan sekitarnya masih jauh dari kata sejahtera, sebuah ironi yang terus berulang meski kalender telah berganti ke tahun 2026.

Mereka adalah garda terdepan pendidikan di pelosok negeri.

Namun, di saat yang sama, mereka harus bertarung mati-matian hanya untuk memastikan dapur tetap mengepul.

Baca Juga: KPK Tetapkan Yaqut Cholil Qoumas dan Gus Alex Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji

Nyambi Kerja Serabutan adalah Keharusan

Bagi ribuan guru honorer, mengandalkan honor mengajar saja adalah kemustahilan.

Upah yang sering kali di bawah standar minimum dan terkadang dibayarkan tidak rutin memaksa mereka memutar otak.

Fenomena guru nyambi kini menjadi pemandangan lumrah.

Baca Juga: Guru Agama dan Madrasah Dapat Kenaikan Tunjangan, Kemenag Beberkan Penjelasannya

Ada yang sepulang sekolah langsung berganti jaket menjadi pengemudi ojek daring (ojol), ada yang jadi buruh tani, menjahit hingga larut malam, atau menjadi pekerja lepas di dunia digital.

Menjalani peran ganda ini bukan tanpa risiko.

Tubuh yang kelelahan dan waktu istirahat yang terpangkas menjadi makanan sehari-hari.

Namun, profesionalisme di ruang kelas tetap mereka jaga, karena mereka sadar kualitas generasi penerus tidak boleh runtuh hanya karena nasib mereka yang belum mujur.

Baca Juga: Loker PPPK Guru Sekolah Garuda 2026 Dibuka, Ini Syarat Lengkap dan Jadwal Seleksinya

Pemerintah dan pemangku kebijakan didesak untuk segera memberikan kejelasan regulasi.

Guru honorer tidak membutuhkan wacana yang membingungkan, melainkan kebijakan yang transparan, berkeadilan, dan benar-benar menyejahterakan.

Selama kesejahteraan belum menjadi prioritas nyata, selama itu pula guru honorer akan terus berjuang dengan kapur di tangan dan beban hidup di pundak.

Pengabdian tulus mereka sudah selayaknya dibalas dengan kehadiran negara yang nyata, bukan sekadar isu yang timbul tenggelam. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#guru honorer #gaji #ojol #madiun #buruh #kesejahteraan guru