Jawa Pos Radar Madiun - Teka-teki mengenai pemberlakuan kembali sekolah daring pada April 2026 akhirnya terjawab.
Pemerintah secara resmi membatalkan wacana tersebut dan menegaskan bahwa Pembelajaran Tatap Muka (PTM) atau luring tetap menjadi prioritas utama di seluruh jenjang pendidikan.
Keputusan ini diambil setelah melalui koordinasi ketat lintas kementerian, dengan pertimbangan utama menjaga kualitas pendidikan dan mencegah terjadinya kemunduran kemampuan belajar siswa atau learning loss.
Baca Juga: Daftar HP Gaming Paling Worth It Rp1 Jutaan 2026, Semua Dibekali Refresh Rate 120Hz!
Pendidikan Tak Boleh Dikorbankan demi Efisiensi
Sebelumnya, opsi sekolah daring sempat mencuat sebagai bagian dari strategi efisiensi dan penghematan energi nasional.
Namun, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan bahwa sektor pendidikan tidak boleh dikorbankan.
“Di sektor pendidikan, proses pembelajaran harus semakin optimal. Jangan sampai timbul learning loss. Oleh karena itu, diutamakan penyelenggaraan proses pembelajaran tetap berjalan secara luring bagi siswa,” tegas Pratikno.
Interaksi Langsung Tak Tergantikan
Pemerintah menilai bahwa esensi pendidikan bukan sekadar transfer materi, melainkan pembentukan karakter dan disiplin yang hanya bisa didapat melalui interaksi langsung di sekolah.
-
Pembangunan Karakter: Kedisiplinan dan perkembangan sosial peserta didik lebih terasah di lingkungan sekolah.
-
Evaluasi Metode Hybrid: Meski sempat didiskusikan untuk menggunakan metode hybrid (gabungan daring-luring), pemerintah menilai hal tersebut belum menjadi urgensi mendesak saat ini.
Baca Juga: Sirkuit Magetan Jadi Tuan Rumah Kejurprov Balap Motor Jatim 2026
Trauma Learning Loss Masa Pandemi Jadi Pelajaran
Keputusan pembatalan ini juga didasari oleh evaluasi besar-besaran pasca pandemi beberapa tahun silam. Pemerintah tidak ingin mengulang kendala klasik yang sempat menghambat kualitas SDM Indonesia, seperti:
-
Ketimpangan Akses: Kesenjangan sinyal internet di berbagai daerah (termasuk pelosok Madiun Raya).
-
Kendala Perangkat: Belum meratanya kepemilikan gawai belajar yang mumpuni di tiap keluarga.
-
Penurunan Interaksi: Hilangnya ikatan emosional antara guru dan murid yang memicu penurunan motivasi belajar.
Baca Juga: Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu, Bahan Pokok di Ngawi Melonjak Usai Lebaran
Kabar Lega untuk Orang Tua di Madiun Raya
Pembatalan rencana sekolah daring per April 2026 ini tentu menjadi angin segar bagi wali murid di wilayah Madiun, Magetan, Ngawi, hingga Ponorogo.
Dengan tetap dibukanya sekolah, beban orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah sambil bekerja dapat terminimalisir.
Pemerintah berkomitmen bahwa pendidikan tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan, tanpa harus terganggu oleh kebijakan efisiensi di sektor lain.
Langkah pemerintah memprioritaskan PTM adalah keputusan yang sangat rasional.
Mengingat tantangan geografis dan ekonomi di wilayah karesidenan Madiun, sekolah luring adalah cara paling adil untuk memastikan semua anak mendapatkan hak pendidikan yang sama tanpa terkendala sinyal. (naz)
Editor : Mizan Ahsani