Jawa Pos Radar Madiun - Kebijakan pengadaan puluhan ribu motor listrik oleh Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi sorotan publik.
Di tengah imbauan efisiensi bagi aparatur sipil negara (ASN), langkah ini memicu perdebatan luas.
BGN diketahui melakukan pengadaan hingga 25 ribu unit motor listrik untuk mendukung operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data yang beredar, harga pengadaan mencapai sekitar Rp49 juta per unit dengan total anggaran menyentuh Rp1,39 triliun.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa realisasi pengadaan telah mencapai puluhan ribu unit.
"Realisasi total motor listrik sebanyak 21.801 unit dari 25.000 unit yang dipesan di tahun 2025," ujar Dadan.
Baca Juga: 5 Pertandingan BRI Super League Terbaik 2026: Ada Laga Penuh Drama hingga Pesta Gol
Spesifikasi Motor Listrik yang Digunakan
Motor listrik yang digunakan dalam program tersebut disebut berasal dari model Emmo, yakni Emmo JVX GT dan JVH Max.
Keduanya memiliki spesifikasi yang relatif mirip, terutama pada sektor baterai dan jarak tempuh:
Baterai: 72V 31Ah (JVX GT) dan 72V 30Ah (JVH Max)
Jarak tempuh: sekitar 70 km
Kecepatan maksimum: sekitar 80 km/jam
Dengan jarak tempuh tersebut, motor listrik ini dinilai membutuhkan pengisian daya berulang jika digunakan untuk operasional harian dengan mobilitas tinggi.
Dibandingkan Kompetitor, Spesifikasi Jadi Sorotan
Di kelas harga yang sama, sejumlah motor listrik lain menawarkan spesifikasi yang lebih tinggi.
Sebagai perbandingan:
Alva Cervo X
Harga: Rp44 jutaan
Jarak tempuh: hingga 125 km
Top speed: 103 km/jam
Polytron FOX 500
Harga: Rp38 jutaan
Jarak tempuh: hingga 130 km
Top speed: 130 km/jam
Perbandingan ini memunculkan pertanyaan publik terkait efisiensi dan value for money dari pengadaan motor listrik BGN.
Baca Juga: Prabowo Panggil Menteri dan Seluruh Pejabat Eselon I ke Istana, Ada Apa?
Viral di Tengah Kebijakan Efisiensi ASN
Isu ini semakin ramai diperbincangkan karena muncul bersamaan dengan kebijakan efisiensi yang diterapkan kepada ASN.
Di sejumlah daerah, ASN diimbau mengurangi penggunaan kendaraan dinas, bekerja dari rumah (WFH), hingga menggunakan sepeda untuk ke kantor sebagai bagian dari penghematan.
Kontras antara kebijakan efisiensi tersebut dengan pengadaan motor listrik dalam jumlah besar menjadi pemicu diskursus di masyarakat. (naz)
Editor : Mizan Ahsani