Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

BGN Ungkap Daftar Makanan yang Dilarang Masuk Menu MBG, Salah Satunya Olahan Mi

Alfiah Sidiq • Senin, 20 April 2026 | 16:08 WIB
Ilustrasi produksi MBG di dapur SPPG.
Ilustrasi produksi MBG di dapur SPPG.

Jawa Pos Radar Madiun - Badan Gizi Nasional (BGN) baru saja merilis hasil investigasi mendalam terkait keamanan pangan dalam menu Program Makan Bergizi Gratis di sekolah-sekolah.

Evaluasi ini dilakukan setelah ditemukannya beberapa laporan mengenai gangguan pencernaan, mual, hingga diare yang dialami oleh para siswa.

Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, menyoroti bahwa standarisasi kebersihan harus menjadi prioritas utama dalam penyajian Makan Bergizi Gratis. 

Ketegasan ini muncul karena beberapa jenis makanan populer ternyata sangat rentan terkontaminasi bakteri berbahaya jika tidak diolah dengan benar.

Langkah pengawasan ketat ini bertujuan untuk meminimalkan risiko keracunan massal pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di seluruh wilayah.

BGN berkomitmen untuk terus mengevaluasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar setiap juru masak memahami tata cara sanitasi yang andal.

Baca Juga: Resep Nasi Cumi Madura ala Pasar Atom, Lauk Hitam Legendaris

Daftar Menu yang Sementara Tidak Direkomendasikan

Berdasarkan temuan di lapangan, terdapat beberapa menu favorit yang justru menjadi pemicu sakit perut karena proses pengolahan yang kurang higienis:

Soto: Kondimen mentah seperti kol dan tauge sering kali disiram kuah dingin yang berpotensi tercemar bakteri e-Coli.

Ayam Suwir: Sering menggunakan bahan yang tidak segar dan proses penyuwiran manual tanpa sarung tangan meningkatkan risiko kontaminasi.

Menu Cepat Basi: Nasi kuning, nasi uduk, dan nasi goreng tercatat paling cepat mengalami pembusukan sebelum dikonsumsi.

Olahan Mi: Berbagai jenis mi goreng yang langsung dicampur sayuran mentah juga menjadi sorotan utama penyebab diare.

Masalah Teknik Memasak dan Ketahanan Pangan

Nanik juga memaparkan bahwa penggunaan alat torch pada menu ayam bakar dan ikan panggang sering kali tidak menjamin kematangan bagian dalam daging.

Proses karamelisasi luar saja dianggap belum cukup untuk membunuh kuman yang bersarang di dalam jaringan protein hewani.

Selain itu, makanan yang menggunakan berbagai jenis saus ditemukan sering dikonsumsi lebih dari 12 jam sejak waktu memasak.

Hal ini tentu sangat membahayakan kesehatan anak-anak, terutama jika makanan tersebut dibawa pulang dan dikonsumsi tanpa dipanaskan kembali.

Hingga saat ini, BGN terus melakukan pendampingan teknis kepada setiap SPPG untuk memastikan ketersediaan tenaga juru masak yang bersertifikasi.

Keamanan pangan kini menjadi pilar utama agar program makan gratis ini dapat memberikan manfaat kesehatan yang maksimal bagi generasi muda. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#bakteri #Makan Bergizi Gratis #nanik s deyang #keracunan mbg #BGN