Ambulans Terbang Ternyata Bukan Hanya Wacana, BRIN Siapkan Pesawat N219 untuk Wujudkan Ide Prabowo

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 06:33 WIB
BRIN mempersiapkan pesawat N219 dan N219A sebagai ambulans terbang sesuai gagasan Presiden RI Prabowo Subianto. (ANTARA)
BRIN mempersiapkan pesawat N219 dan N219A sebagai ambulans terbang sesuai gagasan Presiden RI Prabowo Subianto. (ANTARA)

Jawa Pos Radar Madiun - Gagasan Presiden Prabowo Subianto menghadirkan ambulans terbang untuk menjangkau masyarakat di daerah sulit akses mulai ditopang pengembangan teknologi kedirgantaraan dalam negeri.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mematangkan ekosistem pesawat N219 beserta varian amfibinya, N219A. Pesawat tersebut diproyeksikan mendukung kebutuhan evakuasi medis, terutama di wilayah kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya menjawab visi ambulans terbang sekaligus sistem logistik medis masa depan.

“Menjawab visi ambulans terbang dan logistik medis masa depan, BRIN bersandar pada keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional. Kami mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya (N219A),” kata Arif, Minggu (16/8).

Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang Flores, BRI Peduli Salurkan Bantuan ke Maumere dan Mbay

N219 Disiapkan untuk Evakuasi Medis

Pesawat N219 dikembangkan bersama PT Dirgantara Indonesia (DI).

Salah satu kemampuan yang menjadi modal penting adalah Short Take-Off and Landing (STOL). Karakter tersebut memungkinkan pesawat beroperasi menggunakan landasan relatif pendek.

Sementara varian amfibi N219A diarahkan memiliki fleksibilitas operasi yang lebih luas, termasuk mendukung akses melalui perairan.

Kemampuan itu dinilai relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan sejumlah daerah dengan keterbatasan infrastruktur transportasi.

Dalam skenario ambulans udara, pesawat dapat menjadi sarana mempercepat evakuasi pasien dari wilayah yang selama ini membutuhkan perjalanan berjam-jam menuju fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Kasus BMT MBS Syariah Jadi Sorotan, DPRD Madiun Dorong Pembinaan Koperasi

BRIN Juga Kembangkan Pesawat Nirawak Jarak Jauh

Tak hanya N219, BRIN juga mengembangkan teknologi pesawat udara nirawak untuk mendukung berbagai misi kritis.

Salah satunya Pesawat Udara Nirawak (PUNA) MALE yang disebut mampu mengudara hingga 24 jam nonstop.

Jarak kendalinya menggunakan teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) yang dapat mencapai kurang lebih 2.000 kilometer.

“Platform nirawak berdaya jelajah tinggi ini memberikan sistem yang mandiri dan andal untuk berbagai misi kritis, dari pemantauan taktis hingga proyeksi logistik darurat pada masa depan,” ujar Arif.

Kemampuan tersebut membuka peluang pemanfaatan pesawat nirawak bukan hanya untuk pemantauan, tetapi juga mendukung sistem logistik dalam kondisi darurat pada masa mendatang.

Baca Juga: Lima Desa di Pacitan Belum Kebagian Gerai KDMP, Terganjal Syarat Lahan

Prabowo Soroti Warga Harus Tempuh 7–9 Jam untuk Berobat

Rencana ambulans udara sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memberikan keterangan pemerintah atas RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangan, Jumat (14/8).

Prabowo menyoroti masih adanya masyarakat Indonesia yang harus menempuh perjalanan tujuh hingga sembilan jam hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Persoalan akses tersebut menjadi semakin krusial ketika terjadi kondisi darurat. Termasuk bagi ibu yang membutuhkan pertolongan persalinan.

Karena itu, pemerintah berencana menyiapkan ambulans udara berupa helikopter maupun pesawat berukuran kecil.

“Untuk itu kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” kata Prabowo.

Baca Juga: Casio EDIFICE EFB-109D-5AV, Jam Tangan Sporty Premium dengan Kristal Safir dan Tahan Air 100 Meter

Mengejar Akses Kesehatan hingga Daerah Terpencil

Konsep ambulans terbang tersebut pada dasarnya bukan sekadar menghadirkan moda transportasi baru.

Target utamanya adalah memangkas waktu evakuasi pasien dari daerah yang memiliki keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan.

Indonesia memiliki tantangan geografis yang tidak sederhana. Tidak semua wilayah mempunyai akses jalan memadai ataupun berada dekat dengan rumah sakit.

Dalam kondisi semacam itu, kemampuan pesawat beroperasi dari landasan pendek maupun perairan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas jangkauan evakuasi medis.

Kini, pekerjaan berikutnya berada pada pematangan ekosistem teknologi tersebut.

Jika rencana itu terealisasi, N219 dan varian amfibinya berpeluang mendapat peran baru. Bukan sekadar pesawat karya industri kedirgantaraan nasional, tetapi menjadi bagian dari sistem penyelamatan pasien di daerah yang selama ini sulit dijangkau layanan kesehatan. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
pesawat n219 n219a ambulans terbang BRIN prabowo