NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Sembilan desa di kaki Gunung Lawu masuk zona merah bencana alam. Banjir bandang dan tanah longsor mengancam tatkala hujan lebat mengguyur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi menyiapkan mitigasi bencana untuk jangka panjang. ‘’Kami menanam satu juta pohon produktif tahun ini,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Teguh Puryadi, Senin (8/11).
Teguh menyebut, pohon yang ditanam seperti jambu, mangga, dan jati. Tanaman tersebut ditanam di sembilan desa berisiko tinggi bencana. Antara lain, Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe; Girikerto (Sine); Karanggupito (Kendal); dan Kletekan (Jogorogo).
Keberadaan pepohonan untuk mengikat tanah agar tidak terjadi longsor. Sekaligus menjadi titik resapan agar air tidak langsung mengalir ke wilayah bawah. Hingga akhirnya mencegah banjir bandang. ‘’Pepohonan juga untuk mengantisipasi kekeringan,’’ ujarnya.
BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaannya selama musim pancaroba. Khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana. Sebab, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, intensitas hujan meningkat di rentang 20–50 persen. ‘’Cuaca ekstrem patut diwaspadai. Potensi tanah longsor dan banjir sangat tinggi,’’ sebutnya.
Teguh mengatakan, enam unit early warning system (EWS) berfungsi normal. Pemeriksaannya dilakukan bulan lalu bersama tim Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BTPDAS) Solo. ‘’Ketika terjadi banjir, alarmnya berbunyi,’’ ujarnya. (sae/c1/cor/her)
Editor : Hengky Ristanto