NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Catur Hari Gumono, 53, tidak menyangka atap tengkorak yang ditemukannya Agustus 1987 silam ternyata bukan tengkorak biasa. Oleh para peneliti, fosil homo sapiens dari Ngawi itu menjadi sarana menelusuri asal-usul manusia purba Jawa.
------------------------------------
DI musim kemarau pada Agustus 35 tahun silam, Catur bersama teman-temannya mengumpulkan batu kali Bengawan Solo yang airnya surut. Jemari tangan warga Desa Karangtengah, Ngawi, itu menyentuh sebuah benda aneh yang tidak terasa seperti struktur batu kali. Ketika diangkat dari air, benda itu ternyata atap tengkorak tanpa geraham dan gigi. ‘’Saya menemukannya di aliran Bengawan Solo tepat belakang RSUD dr Soeroto,’’ kata Catur, Senin (11/7).
Catur yang kala itu masih berusia 17 tahun membawa pulang temuannya. Atap tengkorak disimpan di kamar selama berbulan-bulan. Pemikirannya bahwa benda itu tengkorak biasa berubah ketika mengikuti kelas mata pelajaran sejarah. Siswa salah satu SMK di Ngawi itu melihat gambar atap tengkorak di buku pelajaran mirip dengan benda temuannya.
Catur lantas melaporkan temuan atap tengkorak ke dinas kebudayaan sebelum akhirnya diteruskan ke Pemprov Jawa Timur. Dari hasil penelitian, temuan tersebut diduga fosil homo sapiens. ‘’Saya serahkan ke pemkab pada 20 Mei 1988, lalu atap tengkoraknya disimpan di Museum Mpu Tantular, Surabaya,’’ ujar juru ahli pelihara Museum Trinil tersebut.
Dino Mozardien, peneliti independen asal-usul dan evolusi manusia, menyampaikan bahwa atap tengkorak temuan Catur cukup penting. Morfologinya paling dekat dengan fragmen tengkorak Denisovan dari Siberia. Informasi tengkorak Denisovan mencuat kali pertama dalam pertemuan American Association of Physical Anthropologists (AAPA) 2019 di Ohio, Amerika Serikat. ‘’Spesimen Denisova 13 (parietal, Red) yang ditemukan di bilik selatan Gua Denisova pada lapisan tertua dengan estimasi umur 250 ribu sampai 280 ribu tahun mempunyai kedekatan dengan tengkorak manusia Ngawi (temuan Catur),’’ bebernya.
Dino mengungkapkan, penelitian awal tengkorak manusia Ngawi dilakukan Sarrono Sastromidjojo pada 1990. Perkiraannya berjenis kelamin perempuan, usia 60 tahun, dengan kapasitas tengkorak sekitar 959 cc. Masih jauh dari kapasitas manusia modern (1500 cc) dan beririsan dengan kapasitas tengkorak Sangiran 17 (1029 cc).
Sebelas tahun kemudian, penelitian Harry Widianto mengerucut pada spesimen tengkorak Ngawi lebih kecil dibandingkan spesimen pria Ngandong dan Sambungmacan 1. Selain itu, tidak sekeras spesimen Ngandong 11. ‘’Lalu, penelitian Arthue C. Durband mengungkap relasi spesimen Ngawi dengan populasi Ngadong lebih detail pada 2005,’’ urainya.
Semakin banyak spesimen pembanding, lanjut dia, data dari tengkorak Ngawi menunjukkan variabilitas morfologi dan memperkuat relasi dengan spesimen Ngandong-Sambungmacan. Indikasinya, ukuran tengkorak manusia purba Jawa cenderung statis selama satu juta tahun (berdasarkan umur Sangiran 17 dan populasi Ngandong). Selama periode tersebut, beberapa karakter morfologi turunan muncul di Jawa. Selain itu, ada beberapa karakter turunan dari spesimen Sangiran yang juga diwarisi populasi Ngandong. ‘’Tapi, hingga saat ini masih misteri, belum ada data baru lagi,’’ ujarnya. (sae/c1/cor)
Editor : Hengky Ristanto