NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Gemilangnya Mutiara Ayu Puspitasari dalam turnamen bulu tangkis internasional perlu direspons penyediaan fasilitas yang memadai. Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Ngawi mengklaim sarana dan prasarana (sarpras) latihan atlet cabang olahraga (cabor) itu jauh dari kata representatif.
Mutiara yang masih berusia 17 tahun menyabet dua medali emas di dua turnamen berbeda. Hebatnya, prestasi remaja Desa Tempuran, Paron, itu diraih dalam kurun kurang dari satu tahun.
''Semoga mendorong pemkab untuk memperbaiki sarpras bulu tangkis,'' kata Ketua PBSI Ngawi Supeno kemarin (18/7).
Baca Juga: Sepuluh Bulan Mutiara Ayu Puspitasari Sabet Dua Medali Emas di GOR Amongraga
Supeno mengungkapkan, kabupaten ini hanya punya satu lapangan bulu tangkis indoor di GOR Bung Hatta, Ngawi. Namun, tidak layak untuk menggelar pertandingan. Sebab, angin tetap bisa masuk kendati di dalam ruangan.
‘’Pernah digunakan sekali untuk Kejurkab (kejuaraan kabupaten). Meski lubang udaranya sudah ditutup, angin kencang masih bisa masuk,’’ ujarnya.
Dengan sarpras yang tidak representatif, tujuh klub bulu tangkis menggunakan lapangan indoor milik swasta untuk latihan atlet. Konsekuensinya, sejumlah klub mengeluarkan biaya mandiri untuk pemeliharaan.
''Pemkab bisa membangun lapangan baru atau memperbaiki GOR Bung Hatta,'' ucap ketua Komisi I DPRD Ngawi tersebut.
Menurut Supeno, sarpras yang memadai salah satu upaya mencetak atlet berprestasi. Apalagi, animo anak-anak Ngawi terhadap bulu tangkis cukup tinggi. ''Bagian dari pengembangan,'' tuturnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya