NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Perjuangan perempuan di era saat ini tidaklah mudah. Hal itu disadari betul oleh Sekretaris Komisi III DPRD Ngawi Hanani Muharomah.
Jumlah kaum perempuan yang memiliki karier di sejumlah bidang tak sedikit. Pun, tak jarang mereka menduduki jabatan penting.
Bahkan sejumlah profesi yang lazim didominasi kaum pria kini mulai diwarnai kreativitas dan peran kaum perempuan.
"Banyak perempuan menduduki jabatan publik, berkarier maupun yang lain. Akhirnya punya beban ganda, urusan domestik dan publik,'' kata Hanani, Minggu (21/4).
Menurut Hanani, daya dukung terhadap emansipasi perempuan masih kurang dan lemah.
Walaupun telah dipercaya publik untuk tugas sosial, perempuan masih dituntut untuk urusan domestik.
''Perlu harmonisasi semua pihak,'' ujarnya.
Ada harapan agar pria tidak menyerahkan seluruh urusan domestik kepada perempuan. Saling berbagi tugas agar semua tetap berjalan.
"Harus ada komitmen bagi tugas, baik domestik maupun urusan di luar," ungkap Hanani.
Perjuangan R.A. Kartini perihal emansipasi perempuan sangat luas. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, kata Hanani, banyak inspirasi yang bisa diambil.
Seperti tentang segala permasalahan atau ujian, pasti ada jalan keluar dan harapan. Rasa putus asa tak boleh muncul.
Dengan terus membekali diri dengan ilmu, banyak peran penting disandang perempuan.
''Ungkapan habis gelap terbitlah terang adalah motivasi untuk tetap berjuang. Di setiap kegelapan pasti ada cahaya, setiap masalah yang dihadapi perempuan pasti ada harapan,'' tuturnya.
Anggota Komisi I DPRD Ngawi Sri Haryantiningsih menambahkan, banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan dalam perjuangan perempuan.
Sri menyorot banyaknya kaum hawa yang menjadi korban kekerasan seksual dan kekerasan rumah tangga.
''Harus serius menyelesaikan PR itu,'' katanya.
Peran perempuan perlu ditingkatkan. Misal pada pemilihan legislatif (pileg) tahun ini, ada 10 caleg perempuan yang lolos.
Artinya, keterwakilan perempuan di kursi dewan hanya 22,2 persen. Pada periode sebelumnya, mencapai 28,8 persen.
''Sampai saat ini, perempuan masih dipandang sebelah mata,'' ujar Sri. (sae/den/*)
Editor : Budhi Prasetya