NGAWI, Jawa Pos Radat Madiun – Dampak tragedi tergulingnya bus rombongan pelajar SMK Lingga Kencana di Kawasan Ciater, Subang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu terasa di Kabupaten Ngawi.
Kecelakaan lalu lintas (laka antas) yang mengakibatkan 11 orang korban meninggal dunia itu berimbas pada biro perjalanan wisata di Kabupaten Ngawi.
Mereka mengklaim banyak sekolah yang mengurungkan niat menggunakan jasa biro perjalanan wisata yang dikelolanya.
"Ada yang menunda dan bahkan membatalkan,’’ kata Kukuh Warsono, salah satu pemilik biro perjalanan wisata di Ngawi, kemarin.
Menurut Kukuh, berbagai lembaga pendidikan telah merencanakan study tour menggunakan perusahaan otobus (PO) melalui biro perjalanan wisata miliknya.
Jumlah kegiatan itu cukup banyak menilik momen libur sekolah dan kelulusan. Insiden di Subang disebutnya memberikan dampak psikologis luar biasa, khususnya orang tua siswa.
"Apalagi beberapa daerah melarang study tour,’’ ujarnya.
Menurut dia, dampak pembatalan atau penundaan study tour bukan hanya dirasakan biro perjalanan. Melainkan juga pelaku wisata dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Menurut kukuh, tragedi di Subang bisa dijadikan pembelajaran bersama. Ia sepakat jika pihak penyewa jasa perjalanan wisata mesti jeli dalam mengambil keputusan.
Diantaranya terkait dengan pemilihan armada bus, legalitas dan profesionalitas biro perjalanan wisata yang bakal digunakan.
‘’Jika hal-hal itu dilakukan, kejadian yang tidak diingikan bisa diantisipasi,’’ ucapnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya