NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Tradisi Nyadran yang sudah menjadi warisan budaya di Desa Pelanglor, Kecamatan Kedunggalar, terus dijaga oleh Pemerintah Desa (Pemdes) setempat.
Meski zaman telah berubah, upaya melestarikan tradisi tetap dilakukan agar tidak hilang tergerus waktu.
Kepala Desa Pelanglor, Hariyana, menyampaikan komitmennya untuk menjaga kelestarian tradisi ini saat pelaksanaan acara Nyadran di salah satu dusun pada Jumat Legi lalu.
"Kami melaksanakannya untuk nguri-uri (melestarikan) tradisi yang ada sejak dulu. Ini bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan keberkahan yang diberikan," ujar Hariyana.
Acara Nyadran ini juga diwarnai dengan sesi perang nasi, yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan inti.
Meskipun ada yang menganggap tradisi ini mubazir, Hariyana menyatakan Pemdes tengah merencanakan inovasi agar tradisi tersebut lebih relevan di era sekarang.
"Kami sedang musyawarah untuk menggantinya dengan cara lain, seperti kirab gunungan," tambahnya.
Di sisi lain, Pemdes Pelanglor juga fokus pada pembangunan infrastruktur, khususnya di bidang pavingisasi jalan.
Menurut Hariyana, saat ini kondisi jalan desa sudah jauh lebih baik dengan 80 persen jalan telah dipaving.
"Sisanya akan segera kami tuntaskan, termasuk memperbaiki paving yang sudah rusak," terangnya.
Baca Juga: Dua Bulan Dipasang, Pagar Telaga Sarangan Rusak, 19 Batang Besi Hilang
Beberapa titik di desa memang membutuhkan perbaikan, salah satunya adalah jalan masuk dari Jalan Raya Ngawi-Sragen yang dekat dengan Monumen Soerjo.
Sebagai akses utama, Pemdes berencana membangun jalan tersebut dengan lebih baik agar mobilitas warga semakin nyaman.
Hariyana menekankan pentingnya pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dan dikerjakan oleh tenaga ahli.
"Kami berharap hasil pembangunan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas," pungkasnya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani