Namun yang terbaru mulai merambah ke soal dugaan pelanggaraan kode etik oleh salah satu anggota DPRD Ngawi.
Persoalan itu mencuat setelah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Parade Keadilan Ngawi melaporkan satu orang wakil rakyat dari fraksi Golkar ke Badan Kehormatan (BK) DPRD hari Selasa 7 Januari 2025.
Hal itu ditegaskan ketua LBH Parade Keadilan Ngawi Sumadi. Ia menuding jika anggota legislatif yang dilaporkan itu memposisikan diri memihak manajemen pabrik mainan.
''Dugaannya konflik kepentingan, diduga backing dari korporasi," ucapnya lantang.
Sumadi menyebut jika terlapor mengenakan pin DPRD saat warga bersama tim gabungan melakukan sidak ke lokasi proyek pembangunan pabrik mainan di Kecamatan Geneng hari Selasa lalu.
Dirinya ngotot jika sikap dan perilaku yang ditunjukkan salah satu anggota DPRD Ngawi itu tidak sesuai atau diduga melanggar kode etik.
Sementara itu, anggota legislatif yang namanya disebut-sebut dalam laporan itu mulai buka suara.
Winarto berjanji akan kooperatif dalam proses penanganan laporan oleh BK DPRD setempat.
Dirinya menegaskan akan mengikuti aturan lembaga atas dugaan pelanggaran kode etik seperti dimaksud dalam laporan yang dilayangkan LBH Parade Keadilan Ngawi itu.
"Saya akan ikuti aturan, yang jelas akan saya terangkan kronologi kebenarannya," ujarnya hari Rabu 8 Januari 2025.
Ia menerangkan soal keberadaannya di lokasi proyek pembangunan pabrik mainan saat warga dan personel gabungan melakukan sidak itu.
Winarto mengaku kedatangannya ke lokasi proyek PT GFT Indonesia Invesment di Desa/Kecamatan Geneng itu sebagai tokoh masyarakat.
Pun, itu lantaran kecamatan tersebut adalah daerah pemilihan (dapil) tempatnya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dalam pemilu 2024 lalu.
Lebih lanjut Winarto menerangkan, saat petugas gabungan datang ke lokasi pembangunan pabrik, dirinya kebetulan lewat di sekitar lokasi saat hendak berangkat ke kantor.
Karena mengetahui banyak orang di depan pintu masuk pabrik, dia berhenti dan bertanya ke satpam terkait keramaian itu.
"Saya tanya satpam, katanya akan ada pejabat yang datang juga akan ada demo katanya," terangnya.
Sebagai tokoh masyarakat, dia mengklaim memiliki kepedulian terkait dengan kondisi tersebut.
Kebetulan lokasi proyek pembangunan pabrik mainan itu berada di desanya. Maka, dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Beda soal, jika datang di daerah bukan dapil atau desa sendiri," ujarnya.
Terkait masalah di lapangan yang beredar belakangan ini, dia tidak sepakat dengan ancaman penutupan pembangunan pabrik hanya karena banyak lumpur di jalan akibat aktivitas kendaraan proyek.
Menurutnya, kehadiran pabrik sebesar itu akan sangat bermanfaat. Pabrik itu akan menyerap sekitar lima ribu pekerja.
"Paling tidak, 60 persen nanti dari Kecamatan Geneng," pungkasnya. (sae/den)