Jawa Pos Radar Ngawi – Ruang kelas XI IPS-2 MAN 1 Ngawi berubah fungsi jadi museum mini.
Ratusan benda kuno lintas zaman terpajang. Mulai fosil prasejarah, arca Hindu-Buddha, manuskrip Islam klasik, hingga peninggalan era kolonial dan kontemporer.
Sedikitnya 250 benda bersejarah dipamerkan. Guru sejarah dan antropologi MAN 1 Ngawi, Dicky, menyebut pameran ini hasil kolaborasi antara siswa dan pegiat sejarah lokal.
"Sebagian koleksi berasal dari murid sendiri. Ada juga yang dipinjam dari kolektor dan komunitas sejarah di Ngawi dan Magetan," ujarnya, kemarin (17/6).
Pameran bermula dari tugas mata pelajaran antropologi.
Siswa diminta membawa benda-benda lama terkait unsur budaya. Namun, antusiasme melebihi ekspektasi.
"Daripada hanya teori, kami ingin mereka mengalami langsung. Itu lebih mengena secara pemahaman," lanjutnya.
Fosil tumbuhan dan hewan dari tepian Bengawan Solo menggambarkan masa prasejarah.
Arca nandi dan patung gaya Polinesia mewakili era Hindu-Buddha.
Naskah aksara Pegon menunjukkan pengaruh Islam.
Koin VOC, peta kolonial, dan helm tentara jadi penanda masa penjajahan.
Benda keseharian seperti setrika arang, kendi, hingga telepon putar dari era 1980-an turut dipajang.
"Ini jadi media nyata memahami perjalanan peradaban," kata Dicky.
Kegiatan ini terbuka untuk seluruh siswa.
Tak hanya dari jurusan IPS, siswa IPA dan Keagamaan pun ikut antusias berdiskusi di ruang kelas yang kini menjelma jadi museum mini. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto