Jawa Pos Radar Ngawi – Sebanyak 13 desa di Ngawi masih masuk peta rawan krisis air bersih pada musim kemarau 2025.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan langkah antisipasi meski hingga kini belum ada desa yang mengajukan dropping air.
Kepala Pelaksana BPBD Ngawi Prila Yuda Putra menyebut, jumlah desa rawan tahun ini menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 23 desa.
Namun, 13 desa di delapan kecamatan tetap berpotensi mengalami kekeringan.
Meliputi Kecamatan Ngawi, Pitu, Bringin, Kasreman, Widodaren, Mantingan, Karanganyar, dan Kedunggalar.
“Jadi masih berpotensi mengalami kekeringan,” ujarnya, Rabu (10/9).
Menurut Prila, musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga bulan depan.
Meski berstatus kemarau basah, potensi kekeringan tetap diantisipasi melalui pemetaan wilayah rawan dan penyiapan armada tangki.
“Kami menyiagakan tiga armada truk tangki kapasitas 5.500 liter untuk pengiriman air bersih,” ungkapnya.
Selain ancaman krisis air, BPBD juga mengingatkan warga agar waspada bencana lain di musim kemarau basah.
Seperti pohon tumbang dan angin kencang.
“Kewaspadaan masyarakat penting, mengingat kondisi saat ini dinamis dan bisa menimbulkan dampak di sejumlah wilayah,” tuturnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto