Jawa Pos Radar Ngawi – Proses lelang proyek rehabilitasi sekolah dalam PAPBD 2025 menjadi sorotan.
Dari total 36 sekolah penerima anggaran perbaikan, baru 20 proyek memiliki pemenang tender. Sedangkan 16 lainnya gagal lelang dan harus diulang.
“Seluruh proyek rehab sekolah menggunakan dana alokasi umum (DAU) dalam PAPBD 2025. Rata-rata anggarannya Rp100 juta per sekolah dengan skema paket konsolidasi, bukan penunjukan langsung,” ujar anggota Komisi II DPRD Ngawi Gunadi Ash Cidiq, Sabtu (25/10).
Gunadi menjelaskan, 20 proyek yang lolos tender digabung menjadi lima paket pekerjaan.
Sementara belasan lainnya gagal karena penyedia tidak memenuhi syarat administrasi atau menawar terlalu rendah dari nilai pagu.
“Kami waswas ada arah menggagalkan lelang supaya bisa beralih ke skema penunjukan langsung,” ungkapnya.
Politikus PAN itu menilai, indikasi permainan perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan celah penyimpangan.
Apalagi waktu pelaksanaan tinggal dua bulan kalender.
“Kalau tidak segera tender ulang, pekerjaan bisa molor,” tegasnya.
Komisi II mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) bersama Unit Layanan Pengadaan (ULP) segera menyiapkan jadwal tender ulang.
Gunadi menilai, meski waktunya mepet, proyek tetap bisa dijalankan karena tergolong rehab ringan.
“Kalau efektif, masih bisa selesai dalam 40–50 hari kerja,” pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto