Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Inovasi PNM Bantu IKM Ngawi Naik Kelas lewat Otomasi Produksi Tempe

Alfiah Sidiq • Selasa, 11 November 2025 | 15:41 WIB
Photo
Photo

Jawa Pos Radar Madiun - Politeknik Negeri Madiun (PNM) terus memperkuat kiprahnya sebagai mitra inovasi bagi pelaku industri kecil menengah (IKM).

Kali ini, kampus vokasi itu menghadirkan teknologi otomasi sederhana berupa teknologi pemisah kulit ari kedelai untuk membantu pengrajin tempe di Dusun Sadang, Kabupaten Ngawi.

Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang berlangsung sejak September hingga Desember 2025.

Kegiatan tersebut juga didukung oleh program Diktisaintek Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua tim pengabdian, Dimas Nur Prakoso, menjelaskan bahwa teknologi ini dikembangkan untuk menyelesaikan permasalahan utama industri tempe tradisional yang bergantung metode manual.

“Alat ini digunakan untuk memisahkan kulit ari kedelai secara otomatis sehingga proses pemisahan terjadi dengan sempurna” ujarnya.

Dimas menegaskan, inovasi tersebut bukan untuk menggantikan peran tenaga manusia, melainkan meningkatkan efisiensi kerja tanpa menghapus nilai lokal.

“Kami ingin masyarakat tetap menjadi pelaku utama, tapi dengan sistem kendali otomatis agar pekerjaan lebih efisien dan produk lebih berkualitas,” imbuhnya.

Setelah beberapa minggu diterapkan, hasilnya langsung terasa. Produktivitas industri tempe binaan di Dusun Sadang meningkat hingga 30 persen.

Proses perebusan lebih cepat, hasil kedelai matang merata, dan sanitasi ruang produksi meningkat signifikan.

Salah satu pengrajin, Arlita Dian Pratiwi, megaku sangat terbantu.

"Dulu pemisahan kulit ari kedelai manual dengan menumbuk kedelai, proses perebusan juga menggunakan tong. Dengan teknologi ini sangat bisa memangkas waktu produksi," katanya.

Selain teknologi, tim dosen dan mahasiswa juga memberikan pelatihan Good Manufacturing Practices (GMP).

Meliputi sanitasi ruang produksi, pengelolaan air bersih, penggunaan peralatan stainless steel, hingga standar suhu fermentasi.

Mahasiswa terlibat langsung dalam mendesain alat, berinteraksi dengan pelaku IKM, dan memastikan sistem mudah digunakan.

“Mereka belajar menerapkan ilmu keteknikan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Dimas.

Pemerintah desa berencana menjadikan kelompok usaha tempe binaan ini sebagai proyek percontohan UMKM berbasis teknologi di Ngawi.

Melalui program ini, PNM menegaskan peran perguruan tinggi vokasi sebagai agen perubahan.

Sinergi antara kampus, mahasiswa, dan masyarakat menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi sederhana dapat menciptakan manfaat besar bagi ekonomi lokal.

“Dengan semangat Diktisaintek Berdampak, kami akan terus menghadirkan teknologi yang sederhana, efektif, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

Editor : Mizan Ahsani
#Industri Tempe #bantuan #Politeknik Negeri Madiun #ngawi #PNM #madiun #inovasi