Jawa Pos Radar Ngawi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan.
Setelah kasus keracunan di Kecamatan Sine, kini puluhan siswa di Kecamatan Kedunggalar diduga mengalami gejala serupa usai menyantap menu MBG yang dibagikan ke sekolah, Rabu (26/11).
Indikasi awal mengarah pada makanan yang diduga sudah basi.
Menu MBG dari SPPG Kawu milik Yayasan Al Fatah tiba di sekolah sekitar pukul 09.00 dan dibagikan saat istirahat pertama.
Siswa mulai menyantapnya sekitar pukul 10.00.
“Yang keracunan dirawat di Puskesmas Gemarang. Sekolah kami menerima MBG sejak Senin (21/11),’’ ujar Anang, guru SMPN 2 Kedunggalar.
Aringga Indra Permadi, siswa kelas VIII B SMPN 2 Kedunggalar, menjadi salah satu yang pertama menyadari kejanggalan.
Begitu ompreng dibuka, aroma menyengat langsung tercium.
“Berlendir dan rasanya tidak enak,’’ ungkap Aringga.
Ia memilih membuang makanannya, namun puluhan temannya tetap menyantap dan kemudian mengalami mual, pusing, hingga muntah.
Pihak kecamatan mencatat kasus serupa terjadi di empat sekolah.
Antara lain, SMPN 2 Kedunggalar sebanyak 37 siswa, SDN 02 Jenggrik ada 22 siswa, SDN 06 Jenggrik terdapat 11 siswa, dan SDN 05 Gemarang sekitar 6 siswa.
“Sebagian masih dirawat dalam kondisi lemas dan pusing, ada juga yang mulai membaik,’’ kata Camat Kedunggalar Arsyad Ragandhi.
Ia mengimbau siswa lainnya segera melapor jika merasakan gejala serupa.
Dinas kesehatan telah mengambil sampel muntahan dan sisa makanan untuk diuji laboratorium di Surabaya.
“Kami harus memastikan penyebab keracunan melalui uji laboratorium,’’ terang Kepala Dinkes Ngawi Heri Nur Fahrudin.
Polisi juga melakukan penyelidikan. Menu MBG yang diduga menjadi penyebab berisi telur puyuh bumbu kuning, tumis wortel–labu siam, susu, dan pisang.
“Kami menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan massal,’’ ujar Kapolsek Kedunggalar AKP Karno. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto