Jawa Pos Radar Ngawi – Warga Desa Ngompro, Pangkur, masih menggantungkan akses ke Kwadungan melalui perahu getek yang menyeberangi Bengawan Madiun.
Setiap hari lebih dari 50 pengendara melintas menggunakan perahu kayu milik Bari, 50, yang telah beroperasi turun-temurun sejak era kolonial.
Tanpa perahu itu, warga harus memutar hingga 30 kilometer melalui Jembatan Kendung.
“Banyak yang lewat sini, karena ini jalur penghubung paling dekat,” ujar Bari, Senin (1/12).
Perahu getek yang diwariskan dari kakeknya itu digerakkan mesin diesel.
Namun operasi tidak selalu berjalan mulus. Saat debit Bengawan Madiun naik, Bari memilih menutup layanan.
“Kalau banjir saya tidak berani. Taruhannya nyawa,” tegasnya.
Sejumlah insiden kecil pernah terjadi, mulai penumpang terpeleset hingga motor terjatuh ke sungai.
Semuanya dapat ditangani, namun risiko tetap menghantui.
“Hati-hati harus. Kalau banjir ya berhenti,” imbuhnya.
Meski menjadi jalur vital, Bari tidak mematok tarif.
Warga membayar seikhlasnya, dari Rp 1.000 hingga Rp 10 ribu.
Pendapatannya tidak menentu, hanya Rp 60 ribu hingga Rp 200 ribu per hari, sementara kebutuhan operasional mencapai Rp 50 ribu.
“Tetap harus bersyukur dan sabar,” katanya.
Bari menyadari kebutuhan besar warga akan jembatan permanen.
Usianya bertambah, sementara generasi penerus sudah menunggu. Ia berharap pemerintah memperhatikan akses tersebut.
“Kasihan warga yang rumahnya di seberang sungai,” harapnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto