Jawa Pos Radar Ngawi – Suasana tegang mewarnai peliputan pengambilan sampel makanan di SPPG Bintang, Mantingan, kemarin (4/12).
Delapan jurnalis dari berbagai media mengalami pengusiran, ancaman, hingga tindakan kekerasan oleh seorang pria tak dikenal yang bersikap agresif.
Insiden terjadi tepat saat petugas Dinas Kesehatan Ngawi hendak masuk untuk mengambil sampel makanan terkait dugaan keracunan massal MBG.
Pintu SPPG mendadak ditutup rapat oleh petugas internal, sementara awak media sudah bersiap mengambil gambar dari luar.
Tiba-tiba, seorang pria muncul dari dalam area SPPG dan langsung membentak para jurnalis agar tidak mengambil gambar.
Ia mencabut balok kayu dari gerbang hingga membawa batu paving untuk menghalau para awak media.
“Saya mundur keluar sambil merekam, orang itu mengamuk. Saya lari,” ujar Suratno, jurnalis CNN Indonesia.
Selain intimidasi verbal, beberapa jurnalis mengalami tindakan fisik.
Asfi Manar dari MNC Group menyebut pria tersebut sejak awal menunjukkan gelagat agresif.
“Kami hanya menjalankan tugas. Tidak ada alasan siapa pun melakukan tindakan seperti itu,” tegas Asfi.
Ia menilai tindakan tersebut bukan sekadar reaksi spontan.
Namun sudah mengarah pada upaya menghalangi kerja jurnalistik, bagian penting yang berhubungan langsung dengan hak publik atas informasi.
“Kekerasan terhadap jurnalis tidak boleh dibiarkan. Publik berhak mendapat informasi yang valid,” pungkasnya.
Delapan jurnalis yang menjadi korban pengusiran dan intimidasi adalah Ari Hermawan (Suara Indonesia), Aris Purniawan (SKH Memorandum), Ito Wahyu (JTV Madiun).
Kemudian, Suratno (CNN Indonesia), Imam Mustajab (Solopos Media Group), Asfi Manar (MNC Group), Asep Syaeful Bachri (Jawa Pos Radar Madiun) dan Joko Wahyono alias Jeki (SCTV).
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pihak pengelola SPPG Bintang terkait insiden penghadangan tersebut. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto