Jawa Pos Radar Madiun – Akses air bersih di Kabupaten Ngawi masih menghadapi tantangan serius.
Sebanyak 79 desa tercatat belum tersentuh layanan jaringan perpipaan, membuat ribuan warga bergantung sepenuhnya pada sumur sebagai sumber air harian.
Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman (DPRKP) Ngawi.
Kabid Kawasan Permukiman DPRKP Ngawi, Pipit Dwi Herlina, menyebut pembangunan jaringan perpipaan terus didorong melalui sistem penyediaan air minum (SPAM).
“Kami terus lakukan penyempurnaan layanan,” ujarnya, Selasa (9/12).
Hingga akhir 2025, terdapat 211 unit SPAM di 138 desa dengan total 31.122 sambungan rumah (SR).
Di wilayah perkotaan, jaringan Perumdam mengalir ke 52.205 SR.
Namun mayoritas warga masih mengandalkan 215.187 SR sumur masyarakat.
“Sekitar 41.800 warga belum memiliki akses perpipaan sama sekali,” ungkap Pipit.
Tahun ini DPRKP membangun dua proyek peningkatan SPAM—masing-masing di Desa Campurasri (Kasreman) dan Desa Sriwedari (Karanganyar)—dengan target 100 SR.
Anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 1,3 miliar.
Meski jumlah proyek turun karena efisiensi anggaran, cakupan pelayanan air minum Ngawi sudah ditaksir menyentuh sekitar 88 persen.
Namun Pipit menilai percepatan tetap diperlukan.
“Jaringan perpipaan perlu dipercepat agar akses air bersih bisa mencapai 100 persen,” tegasnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto