Jawa Pos Radar Ngawi – Produksi padi di Kabupaten Ngawi menunjukkan tren positif meski luas lahan sawah mengalami penyusutan.
Selama periode Januari hingga Oktober 2025, total produksi padi mencapai 775.466 ton gabah kering giling (GKG).
Kabid Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Ngawi M. Hasan Zunairi menyebutkan, angka tersebut meningkat 5.637 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Produksi padi Januari–Oktober 2025 tercatat 775.466 ton GKG. Itu meningkat dibandingkan tahun lalu,” ujar Hasan, Minggu (4/1).
Peningkatan produksi tersebut terjadi di tengah penyusutan luas baku sawah (LBS).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik setempat, luas sawah di Ngawi yang sebelumnya sekitar 50 ribu hektare kini menyusut menjadi kurang lebih 49.600 hektare.
“Terjadi penurunan sekitar 1.100 hektare,” jelasnya.
Menurut Hasan, capaian produksi itu tidak lepas dari upaya intensifikasi pertanian yang terus dilakukan pemerintah daerah bersama petani.
Program peningkatan produktivitas lahan berkelanjutan (PRLB) serta perbaikan kesuburan tanah menjadi faktor penting dalam mendongkrak hasil panen.
“Dengan usaha dan kegigihan petani serta program PRLB, sedikit banyak membantu peningkatan produksi,” ujarnya.
Di tingkat Provinsi Jawa Timur, produksi padi Ngawi saat ini berada di posisi ketiga, turun satu peringkat dibandingkan sebelumnya.
Namun, kondisi tersebut dinilai masih wajar mengingat keterbatasan luas lahan.
“Luas sawah Ngawi berada di urutan keenam se-Jatim,” ungkap Hasan.
Diketahui, indeks pertanaman (IP) di Ngawi mencapai 2,6, lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah lain yang memiliki lahan sawah lebih luas.
Sementara produktivitas padi masih tergolong tinggi, yakni sekitar 6,2 ton per hektare.
“Produktivitas per hektare masih terjaga,” pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto