Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Harga Pupuk Non Subsidi Naik, Petani Ngawi Diminta Beralih

Hengky Ristanto • Jumat, 3 April 2026 | 12:45 WIB
Petani di Ngawi mulai diarahkan mengurangi ketergantungan pupuk kimia akibat kenaikan harga pupuk non subsidi. DOK RADAR NGAWI
Petani di Ngawi mulai diarahkan mengurangi ketergantungan pupuk kimia akibat kenaikan harga pupuk non subsidi. DOK RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Ngawi – Kenaikan harga pupuk non subsidi mulai berdampak pada sektor pertanian.

Meski demikian, Pemkab Ngawi memastikan ketahanan pangan tetap aman.

Kepala DKPP Ngawi, Supardi, mengatakan harga pupuk subsidi masih stabil.

’’Pupuk subsidi masih aman, tidak ada kenaikan,’’ ujarnya, Jumat (3/4).

Supardi menjelaskan, kenaikan harga berpotensi terjadi pada pupuk non subsidi.

Terutama urea yang terdampak gejolak global.

’’Kalau petani bergantung pada pupuk non subsidi, risikonya bisa rugi,’’ jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, DKPP mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan (PRLB).

Konsep ini mengombinasikan penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik.

Saat ini, sekitar 27 ribu hektare atau 60 persen dari total 49 ribu hektare lahan pertanian di Ngawi telah menerapkan pola tersebut.

’’Harapannya semakin banyak petani mengurangi ketergantungan pupuk kimia,’’ katanya.

Petani yang masih bergantung penuh pada pupuk kimia dinilai paling terdampak.

Karena itu, pengurangan dilakukan bertahap, mulai dari 30 persen hingga 50 persen.

’’Targetnya petani bisa mandiri,’’ terangnya.

Supardi menambahkan, kualitas tanah menjadi faktor penting.

Tanah yang subur cukup ditopang pupuk subsidi dan organik.

Petani juga bisa memanfaatkan pupuk dari kotoran hewan, kompos, hingga mikroorganisme lokal.

’’Perubahan harus bertahap agar tanah tidak kaget,’’ tandasnya. (sae/cor)

Editor : Hengky Ristanto
#pupuk naik #pertanian organik #DKPP Ngawi #PRLB Ngawi #petani ngawi