Di tengah kaku dan tertutupnya tembok pingitan bagi perempuan bangsawan Jawa masa itu, Sosro Busono hadir sebagai "jendela" bagi Kartini untuk mengenal dunia luar.
Hubungan keduanya bukan sekadar persaudaraan biasa, melainkan pilar penting dalam pertumbuhan intelektual Kartini.
Sebagai saudara laki-laki dengan mobilitas lebih tinggi, Sosro Busono sering berbagi literatur dan informasi terkini, yang kemudian memperluas cakrawala berpikir Kartini mengenai isu-isu sosial dan pandangan Barat.
Tak heran, sang kakak RA KArtini tersebut kelak menjabat sebagai Bupati Ngawi pada periode 30 September 1905 hingga 1943.
Pendobrak Tradisi Konservatif
Berbeda dengan kaum bangsawan pria pada masanya yang cenderung konservatif, Sosro Busono memiliki pemikiran yang jauh lebih terbuka.
Ia memberikan ruang bagi adik-adik perempuannya meliputi Kartini, Roekmini, dan Kardinah, untuk terus mengembangkan diri.
Dukungan inilah yang memungkinkan Kartini tetap produktif menulis meskipun berada dalam masa pingitan.
Dukungan dari figur laki-laki dalam struktur patriarki Jawa kala itu sangat krusial.
Tanpa restu dan pertukaran ide dengan Sosro Busono, kemungkinan besar tulisan-tulisan Kartini yang mendunia tidak akan pernah lahir. (naz)
Editor : Mizan Ahsani