Jawa Pos Radar Ngawi – Harga elpiji nonsubsidi di Ngawi melonjak tajam dalam sepekan terakhir.
Kondisi itu kian memberatkan pelaku usaha kuliner di tengah sulitnya pasokan di pasaran.
Di tingkat pengecer, harga elpiji 12 kilogram kini menembus Rp 260 ribu per tabung.
Naik dari sebelumnya Rp 231 ribu. Sementara ukuran 5,5 kilogram dijual Rp 145 ribu, dari sebelumnya Rp 115 ribu.
Kenaikan tersebut diikuti kelangkaan barang. Tabung gas ukuran 5,5 dan 12 kilogram disebut sulit didapat.
“Dampaknya ke kafe sangat berat. Nyari gas juga susah, harus keliling ke agen-agen,” ujar Ana Safitri, karyawan Alas Cafe di Kelurahan Margomulyo, kemarin (24/4).
Dalam operasionalnya, Alas Cafe membutuhkan tiga tabung elpiji 12 kilogram setiap dua hari.
Namun, di tengah lonjakan biaya, pelaku usaha belum berani menaikkan harga menu.
“Harganya naik jadi Rp 260 ribu. Belum lagi plastik dan minyak goreng juga naik,” terangnya.
Keluhan serupa disampaikan Triaji Setyawan, karyawan Saung Dhahar.
Dia menilai kenaikan elpiji semakin menekan usaha kuliner yang juga terbebani kenaikan harga bahan baku lain.
“Dampaknya berat bagi pelaku usaha kuliner,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik pangkalan elpiji di Ngawi, Sukatno, menyebut kenaikan harga terjadi mendadak tanpa sosialisasi. Perubahan mulai berlaku sejak Sabtu (18/4) lalu.
Di tingkat pangkalan, harga elpiji 12 kilogram naik menjadi Rp 228 ribu dari sebelumnya Rp 192 ribu.
Sementara ukuran 5,5 kilogram naik menjadi Rp 107 ribu dari sebelumnya Rp 91 ribu.
“Awalnya banyak yang borong. Setelah saya lihat informasi di handphone, ternyata harga gas nonsubsidi naik. Pembeli banyak yang mengeluh,” ujarnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto