Jawa Pos Radar Madiun – Daya beli yang melemah tak menyurutkan minat masyarakat untuk berkurban.
Menjelang Iduladha, permintaan hewan kurban di Ngawi justru meningkat.
Pemilik kandang Sawo Jajar, Syaiful Irsyad, menyebut antusiasme masyarakat tahun ini lebih tinggi dibanding tahun lalu.
“Permintaan sapi meningkat. Antusias masyarakat untuk berkurban tahun ini lebih tinggi,” ujarnya, kemarin (3/5).
Tren pilihan pun bergeser. Jika sebelumnya sapi jenis limosin dan simental mendominasi, kini sapi lokal serta dari luar daerah seperti Bali, Madura, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih diminati.
Baca Juga: Kecelakaan Tol Ngawi–Solo, Satu Tewas Tiga Luka
Menurut Syaiful, faktor harga dan hasil daging menjadi pertimbangan utama. Sapi lokal dinilai lebih ekonomis dengan hasil karkas yang optimal.
“Sapi Madura, Bali, atau NTT lebih ekonomis. Tulangnya kecil, hasil karkasnya lebih banyak,” jelasnya.
Dia menambahkan, peternak harus menyesuaikan pilihan dengan kemampuan konsumen.
Tidak semua masyarakat mampu membeli sapi jenis premium seperti limosin.
Selain itu, memaksakan penjualan sapi mahal dengan harga murah berisiko tidak memenuhi syarat kurban.
Baca Juga: Progres Sekolah Rakyat Ngawi Lampaui Target, Pembangunan Dikebut
“Kalau dipaksakan limosin harga ekonomis, bisa jadi belum cukup umur atau belum memenuhi syariat,” imbuhnya.
Saat ini, bobot ideal sapi lokal siap potong berkisar 300–400 kilogram.
Sedangkan sapi limosin umumnya memiliki bobot 500–600 kilogram sehingga harganya lebih tinggi.
Syaiful mengaku memiliki sekitar 150 ekor sapi. Namun, stok mulai menipis meski Iduladha masih sekitar satu bulan lagi.
Dia sengaja tidak menyetok terlalu banyak agar peternak lokal lain juga mendapat kesempatan menjual langsung ke masyarakat.
“Kami ingin peternak lokal ikut merasakan,” tandasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto