Jawa Pos Radar Madiun - Pemerintah Desa (Pemdes) Ploso Lor, Kecamatan Karangjati, kembali merealisasikan program Ketahanan Pangan dengan membagikan bantuan sembako kepada warganya.
Langkah taktis ini diambil guna menjaga stabilitas konsumsi harian masyarakat di tengah dinamika ekonomi saat ini.
Yaitu dengan pembagian beras dan minyak goreng. Bantuan ini merupakan bagian dari Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog.
Beras dan minyak tersebut tidak dibagikan secara merata ke seluruh warga desa, melainkan menyasar Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang datanya sudah ditentukan dari pusat.
''Karenanya pemerintah desa memiliki peran penting sebagai fasilitator di lapangan agar bantuan tersebut sampai ke tangan yang tepat," ujarnya.
Dalam penyaluran kali ini, setiap warga yang terdaftar menerima paket bantuan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng Minyakita.
Baca Juga: HUT ke-108 Kota Madiun Bakal Meriah, Ada Dewa 19 dan Duta Sheila On 7!
Kepala Desa Ploso Lor, Winarni, menyampaikan bahwa ada peningkatan jumlah warga yang menerima bantuan dibandingkan periode sebelumnya.
“Alhamdulillah untuk sekarang jumlah penerima manfaat bertambah dari sebelumnya 487 orang kini 587”, ujarnya.
Winarni mengungkapkan, pembagian sembako oleh pemerintah desa ini merupakan salah satu bentuk program jaring pengaman sosial.
Tujuannya sangat jelas, yakni membantu meringankan beban ekonomi keluarga penerima manfaat (KPM), terutama mereka yang masuk dalam kategori miskin, rentan, atau sedang terdampak situasi tertentu.
“Agar bantuan tepat sasaran, pemerintah desa mengacu pada data terpadu resmi atau hasil musyawarah”, imbuhnya.
Untuk memastikan keadilan dalam distribusi, Pemdes Ploso Lor telah menetapkan skala prioritas bagi KPM.
Mereka yang diutamakan meliputi keluarga yang secara resmi terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), lanjut usia (lansia) tunggal atau penyandang disabilitas yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Selain itu keluarga yang baru saja kehilangan mata pencaharian utama, serta Masyarakat rentan miskin yang dipastikan belum menerima bantuan sosial dari pintu lain (seperti PKH atau BPNT).
Terkait teknis pengambilan sembako di balai desa, pihak desa telah mengatur jadwal agar tidak terjadi penumpukan antrean.
“Untuk pembagiannya warga datang membawa kupon, Kartu Keluarga (KK), dan KTP sesuai dengan jadwal blok atau dusun yang telah ditentukan”, terangnya.
Upaya menjaga kesejahteraan sosial warga di Ploso Lor tidak hanya berhenti pada program bantuan pangan semata.
Pada momen-momen kemasyarakatan tertentu, seperti peringatan bulan Muharam, Pemdes juga turun tangan mengalokasikan bantuan sosial khusus.
“Di waktu atau momen tertentu juga kami manfaatkan untuk santunan khususnya ke anak-anak yatim”, katanya.
Selain pendistribusian, Winarni menegaskan bahwa Pemdes juga mengawal ketat proses pendataan dari tahap awal hingga bantuan benar-benar menyentuh tangan warga.
Kendali penuh di lapangan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada warga miskin yang tertinggal (exclusion error) dan tidak ada warga mampu yang justru menikmati bantuan (inclusion error).
Sebagai langkah preventif ke depan, aparat desa juga rutin memberikan pemahaman kepada warga mengenai hakikat bantuan sosial agar tepat guna.
“Kami juga mengedukasi masyarakat mengenai pemenuhan kriteria kemiskinan objektif berdasarkan standar Kemensos serta pendekatan persuasif kepada warga yang ekonominya sudah membaik," ujarnya.
"Tentu harapannya, mereka dapat sukarela keluar dari daftar penerima bansos," imbuh Winarni. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani